Menelisik Lika-liku Mr Joger, Pendiri Pabrik Kata-Kata Joger Kuta Bali

"Usaha ini bukan profit oriented, tapi happiness oriented," ujar Mr Joger.

Menelisik Lika-liku Mr Joger, Pendiri Pabrik Kata-Kata Joger Kuta Bali
Tribun Bali/Ni Ketut Sudiani
Joseph Theodorus Wulianadi (63) pendiri pabrik kata-kata Joger, Kuta, Bali (kanan) sedang berbincang-bincang usai diskusi di Bentara Budaya, Bali. 

Laporan Wartawan Tribun-Bali, Ni Ketut Sudiani

 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -  "Good morning, selamat pagi!". Sapaan khas Mr Joger itu menggema di taman terbuka Bentara Budaya Bali, Ketewel, mengawali diskusi "Black Hole Employment", Minggu petang (9/3/2014).

Ratusan pengunjung duduk berjajar seakan menanti permainan kata demi kata yang terlontar dari pemilik Pabrik Kata-Kata Joger di Kuta, Bali itu.

Joseph Theodorus Wulianadi (63), yang lebih tersohor dengan sebutan Mr Joger mengungkap segala lika-liku perjalanan kreatifnya menjadi 'pemulung' kata hingga proses pencarian jati diri dan  makna kebahagiaan seorang pengusaha.

"Meskipun banyak yang mencemooh dan mengatakan saya munafik, tapi tekad saya sudah bulat menjadikan usaha ini bukan profit oriented, tapi happiness oriented," ujarnya.

Atas dasar semangat itu sejak tahun 1990-an Mr Joger memutuskan menutup dua toko di Denpasar yang sesungguhnya menghasilkan keuntungan cukup besar.

"Tapi alasan yang paling mendasar adalah demi kebahagiaan keluarga. Anak saya Armand Setiawan menyadarkan kami," katanya.

Suatu malam sekitar pukul 11.00, Mr Joger yang baru pulang dari kerja langsung dicegat Armand yang saat itu baru berusia tujuh tahun.

"Ayah kenapa akhir-akhir ini saya selalu pergi hanya dengan supir dan oma? Ayah dan mama tidak pernah ikut. Kalau ditanya juga jawabannya sering pendek-pendek. Apa terlalu sibuk?" kenang Mr Joger menirukan perkataan anaknya.

Malam itu Mr Joger merenung dan memikirkan pernyataan anaknya. Kata-kata Armand itu kemudian mendorongnya untuk menutup dua toko di Denpasar.

Keluarga dan rekan Mr Joger menentang keputusan itu. Ia dianggap sudah gila dan membahayakan masa depan bisnisnya.

Mr Joger saat itu menyadari bahwa ia dan istrinya bekerja siang malam, punya banyak uang, tapi tidak bahagia dan mengorbankan masa kini anaknya.

"Pilihan saya ternyata tepat. Pikiran lebih jernih, keluargapun harmonis. Puji tuhan rejeki terus mengalir. Tapi bagi saya happiness lebih penting dari segalanya. Kita hidup wajar-wajar saja asal jangan kurang ajar," tutur pria yang dulu pernah belajar di Jerman.

Dalam dialog yang diadakan oleh komunitas sosial budaya Garing bekerjasama dengan Ekspresso 88 itu, hadir pula sebagai narasumber, Hartanto Yudho Prasetyo, seorang sastrawan sekaligus petani organik.

Hartanto pun menegaskan bahwa Mr Joger memang berhasil menciptakan jalan yang berbeda, lain daripada yang lain seperti fenomena black hole. (*)

Editor: imam hidayat
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved