Smart Women

Saras Dewi, Berani Mengejar Cita-cita

Saya beranggapan, pendidikan seharusnya membuat seseorang menjadi kritis

Saras Dewi, Berani Mengejar Cita-cita
Tribun Bali/Istimewa
Saras Dewi 

PENGALAMAN yang paling terkenang di ingatan Saras Dewi adalah saat mengambil keputusan meninggalkan kampung halaman di Bali, menuju ke Jakarta untuk sekolah. Kenangan 15 tahun lalu itu terlintas, saat mengingat almarhum kakek yang mendorongnya untuk berani mengejar cita-cita. Meski perjalanan menuju cita-cita itu begitu berat.

Selain itu, bagi Saras, perempuan juga harus diberikan kebebasan untuk mengejar cita-citanya.

"Siapapun dapat mengaitkan dirinya dengan Kartini. Apalagi perempuan-perempuan yang sedang berjuang di antara merenggut kebebesannya berekspresi," ujarnya kepada Tribun Bali, belum lama ini.

Almarhum sang kakek juga menjadi inspirasi perempuan kelahiran Denpasar, Bali pada 16 September 1983 ini yang bercita-cita untuk menjadi seorang pengajar. Setelah lulus SMA, Saras memilih Jurusan Filsafat di Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Ketertarikannya pada filsafat karena merupakan akar dari segala ilmu apapun. Selain itu, filsafat memiliki sudut pandang yang kritis dalam mempertimbangkan apapun.

"Saya beranggapan, pendidikan seharusnya membuat seseorang menjadi kritis. Filsafat sebagai ilmu melatih seseorang menjadi kritis dan terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan baru," ujar sulung dari 10 bersaudara ini.

Dari sarjana hingga bergelar dokter, Saras konsisten dengan mendalami filsafat. Saat ini dia mengabdikan dirinya sebagai pengajar, sekaligus ketua program studi Ilmu Filsafat di UI.

Istri dari gitaris Netral, Christopher ini akhirnya berhasil meraih cita-cita menjadi seorang pengajar, meneruskan profesi sang almarhum kakek. Selain itu, dia sedang menyelesaikan sejumlah tulisan untuk seminar dan jurnal ilmiah.

"Menikah, dan menjadi ibu adalah pilihan dan tindakan yang mulia. Tapi intinya, setiap perempuan diperbolehkan untuk menentukan pilihannya. Saya merasa masih banyak tugas yang harus dilakukan, khususnya berbagi pengetahuan filosofis kepada mahasiswa dan siapapun yang ingin belajar mengenai hal tersebut," ujar penulis sejumlah buku yang diterbitkan Filsafat UI Press ini.

Namun, Bali tetap menjadi tujuan Saras untuk menetap. Dia ingin menulis berbagai kajian dan sastra tentang Bali, pada saat masa pengabdiannya di UI sudah kelar.

"Saya ingin membangun keluarga bersama suami di Bali. Itu harapa saya untuk masa depan. Tapi sekarang, masih banyak yang harus dipelajari. Baik itu filsafat timur, eksistensialisme, sampai filsafat lingkungan hidup," ujar pemilik nama lengkap LG Saraswati Putri Dewi ini. (guy)

Editor: Agung Yulianto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved