Benarkah Bali Saat Ini Krisis Air Bersih?

Untuk kawasan Jawa dan Bali sudah mengalami kekurangan air tanah sebanyak 13,1 miliar kubik.

Benarkah Bali Saat Ini Krisis Air Bersih?
Tribun Bali/Cisilia Agustina S
Diskusi Krisis Air di Bali, Solusi dari Peneliti yang berlangsung di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Selasa (28/4/2015). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kenyataan bahwa semakin berkurangnya ketersediaan air bersih di Bali sudah tak bisa dielakkan lagi.

Cadangan air tanah yang kini dimiliki oleh Bali sudah berada di bawah 20 persen, namun bukan berarti tidak ada solusi untuk menangani hal tersebut.

Hasil penelitian berupa fakta dan solusi untuk menyelamatkan Bali dari krisis tersebut, disampaikan oleh Tim Program Penyelamatan Air Bali (BWP), yang terdiri dari Yayasan IDEP Selaras Alam dan Politeknik Negeri Bali pada diskusi "Krisis Air di Bali, Solusi dari Peneliti" yang berlangsung di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali, Selasa (28/4/2015).

"Menurut data Bappenas pada tahun 2013, untuk kawasan Jawa dan Bali sudah mengalami kekurangan air tanah sebanyak 13,1 miliar kubik. Memang kelihatannya kita masih punya banyak air, namun itu adalah air permukaan bukan air tanah," ujar Ida Bagus Putu Bintana, peneliti Teknik Sipil PNB.

Dengan terus meningkatnya populasi, industri serta perhotelan (pariwisata), kondisi ini akan menjadi semakin riskan untuk keberlangsungan ekosistem di Bali.

Ditambah lagi dengan privatisasi yang dilakukan oleh asosiasi pembuat air minum kemasan di Indonesia.

Hal senada juga disampaikan oleh Florence Cattin, inisiator dan penasihat program dari Yayasan IDEP.

Ia juga menjelaskan tentang solusi temuan yang dapat dilakukan sebagai bentuk program penyelamatan tersebut.

Solusi yang ditemukan dari hasil penelitian yang mereka lakukan, yakni berupa sistem pengisian ulang air tanah dan pembuatan sumur resapan hujan dinilai menjadi yang paling efektif efisien dan tidak memakan biaya tinggi dalam penerapannya.

Namun begitu, solusi ini bisa dilakukan dengan dukungan dari kita sendiri, karena hingga saat ini hal tersebut masih tidak dinilai penting oleh masyarakat dan seluruh elemen yang ada di Bali.

Menurutnya dibutuhkan suatu aksi nyata untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, para pelaku pariwisata dan tentunya pemerintah sendiri, untuk bersama-sama melakukan solusi penyelamatan Bali dari krisis air tersebut.

"Kita harus mendorong pemerintah untuk cepat mengatasi hal tersebut. Apalagi ini berhubungan dengan kebudayaan Bali yang lekat dengan Tirta, tapi bagaimana kalau airnya sudah hilang?," ujar Flo. (*)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:

Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali

Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali

Penulis: Cisilia Agustina. S
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved