Citizen Journalism

Tiga Kisah yang Dipentaskan di Taman Budaya Denpasar

Masing-masing lakon yang dibawakan berangkat dari cerita pendek (cerpen) yang telah dipilih sebelumnya.

Tiga Kisah yang Dipentaskan di Taman Budaya Denpasar
Tribun Bali
Penampilan seorang aktris saat lomba seni sastra modern yakni Drama Modern di panggung Wantilan, Art Centre Denpasar, Rabu (2/9/2015). 

Oleh: Frischa Aswarini

DUA petani lari ketakutan setelah melihat Dadong Simprig di halaman rumahnya.
Nenek bungkuk yang tadinya duduk di bawah bayang pohon mangga itu pun menyeringai. Malam yang sepi jadi makin mencekam.

Beberapa jam kemudian, terdengar bunyi kentongan dari bale banjar, tanda pengabenan seorang bangsawan akan segera diadakan.

Bunyi yang sama juga terngiang dalam lamunan Gung De Lila yang berulangkali dihantui masa lalu dan panggilan ayahnya untuk pulang ke puri.

“Aku ingin anak-anakku bahagia” kata Sulastri, istrinya, yang menambah gundah hati Gung De.

Kegelisahan juga tampak pada wajah Pak Amat dan istrinya yang bertanya-tanya tentang perubahan yang terjadi di sekeliling mereka, pada kota dan orang-orang yang dikenalnya.

Tiga kisah yang berbeda tersebut dipentaskan oleh para peserta Lomba Seni Teater se-Bali di Wantilan Taman Budaya, Denpasar, Bali, Selasa (1/9/2015) lalu.

Masing-masing lakon yang dibawakan berangkat dari cerita pendek (cerpen) yang telah dipilih sebelumnya.

Teater Angin yang tampil pertama kali mementaskan naskah “Leak” karya Abu Bakar.

Dengan aneka tata musik dan permainan siluet, suasana misterius di pekarangan Dadong Simprig sanggup dihadirkan ke atas pentas.

Halaman
123
Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved