Citizen Journalism

Mencari Bibit Mangrove dalam Lumpur

Mangrove For Love (MFL) adalah program kerja dari EH Denpasar untuk melestarikan mangrove. Kami tidak hanya menanam mangrove lalu kemudian meninggalka

Mencari Bibit Mangrove dalam Lumpur
Istimewa

TRIBUN-BALI.COM - Mangrove For Love (MFL) adalah program kerja dari EH Denpasar untuk melestarikan mangrove. Kami tidak hanya menanam mangrove lalu kemudian meninggalkannya. Kami lalui semua prosesnya. Mulai dari mencari buah, kemudian pembibitan, menanam hingga merawatnya dari sampah-sampah plastik ataupun lumut yang menutupi mangrove. Karena mangrove ini masih kecil, maka diperlukan perhatian ekstra untuk merawatnya.

Setiap seminggu sekali kami rutin melakukan piket bersama tim MFL dan volunteer . Dengan agenda piket tetap yakni membersihkan mangrove. Sedangkan mencari buah, pembibitan dan penanaman kami lakukan di waktu-waktu tertentu saja. Di setiap piket tim MFL, kami selalu melibatkan partisipasi dari volunteer.

Pada Sabtu (29/8) agenda kami adalah mencari bibit mangrove untuk mengganti mangrove yang telah jatuh dari pohonnya. Kali ini kami ditemani mahasiswi Phd Candidate Natural Resource Manajemen dari Massachusetts Institute of Technology Amerika Serikat. Mahasiswi S3 ini adalah Kelly Heber Dunning yang sedang melakukan penelitian tentang mangrove di seluruh Indonesia, mengukur tentang bagasi pohon untuk mengetahui keadaan ekosistem mangrove yang baik.

Kali ini Kelly berkesempatanan melakukan penelitian di Kampoeng Kepiting Tuban, Bali. Setelah berkenalan, kami beranjak menuju lokasi pencarian buah yakni di sebelah selatan tol Bali Mandara. Buah yang dicari adalah buah mangrove jenis lindur yang berbentuk memanjang berwarna hijau .Buah yang sudah jatuh kami kumpulkan karena yang sudah jatuh berarti buah yang sudah tua dan cocok untuk dijadikan bibit.

Tentu saja kami memilih buah yang masih baik bukan yang busuk atau berulat. Sore itu kami mengumpulkan 160 buah. Dengan medan di sebelah selatan tol yakni karang-karang dan lumpur sehingga sedikit memperlambat gerakan kami  mencari buah, namun tak pernah menggugurkan niat kami melestarikan hutan mangrove. Berbeda dengan Andi, nelayan di Kampeng Kepiting yang terlihat cekatan dalam mengumpulkan buah-buah yang berjatuhan di lumpur.

Andi adalah nelayan Desa Wanasari Tuban yang senantiasa menemani tim MFL di setiap kegiatan piket kami. Dia mengajarkan kami banyak hal tentang mangrove semenjak pertama kali kami datang. Andi dengan senang hati menuntun kami di lapangan. Ketika kami mencari buah, pembibitan, menanam, hingga merawat mangrove, beliau selalu turut serta bersama kami.

Setelah dirasa cukup, Tim MFL, volunteer, Kelly dan Andi bersama-sami kami membawa buah mangrove yang telah terkumpul dan memasukannya ke dalam kampil menuju tempat pembibitan. Di sana, buah yang telah terkumpul diikat, yang masing-masing satu ikatan berisi sepuluh buah, lalu dimasukan semuanya dalam satu wadah.

Didiamkan selama tiga bulan di tempat pembibitan hingga pada buah  muncul daun dan akar, baru kemudian dipindahkan ke dalam polybag berisi tanah. Akhirnya bibit pun siap untuk ditanam. Semua proses tersebut kami lakukan secara berkesinambungan dan tidak akan terwujud tanpa partisipasi volunteer. Kami  lakukan semua ini demi menghijaukan kembali hutan mangrove di sekitaran tol Bali Mandara dan melestarikan hutan mangrove di Bali mengingat banyaknya manfaat hutan mangrove.(*)

Penulis: Ni Luh Tiwi Hari Cahyani
Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Bisnis, Unud

Ingin menjadi penulis di rubrik citizen journalism Tribun Bali? Klik Link Ini

Editor: gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved