Citizen Journalism

Sebaiknya Ada Areal Khusus Pedagang di Lapangan Renon

Dengan lokasi khusus untuk para pedagang, Lapangan Renon akan lebih tertib dan nyaman.

Sebaiknya Ada Areal Khusus Pedagang di Lapangan Renon
tribun bali
Pedang asongan berkeliaran di Lapangan Renon, Denpasar.

HIRUK pikuk ramainya Lapangan Renon, Denpasar, tatkala pagi atau sore memang bukan hal baru. Masyarakat kerap memanfaatkan lapangan ini untuk berolahraga, berkumpul bersama teman atau sekadar jalan-jalan sambil menikmati makanan kecil yang dijajakan pedagang asongan.

Menjamurnya pedagang asongan menjadi tidak wajar bagi saya, ketika melihat sebuah papan pengumuman di arel lapangan yang bertuliskan “dilarang berjualan di areal ini”. Memang pemerintah telah konsisten terhadap peraturan yang dikeluarkan.

Hal ini terbukti, sangat sering saya menyaksikan adegan kejar-kejaran antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang menertibkan para pedagang asongan.

Kendati telah berulang kali, namun tetap saja pedagang kembali menjamur beberapa hari kemudian. Lantas, melihat hal ini, apakah kita harus menyalahkan pihak terkait yang kurang bekerja ekstra?

Ada gula ada semut. Peribahasa ini mungkin pas mewakili bagaimana pedagang asongan yang rela berkejar-kejaran dengan Satpol PP, demi menjemput pembeli yang telah siap menanti. Arti dari pernyataan saya tersebut ialah, tidak ada peran masyarakat untuk mendukung tegaknya peraturan ini.

Hal ini tercemin dari masyarakat yang berkunjung masih tetap berbelanja kendati telah mengetahui dilarang berjualan di areal Monumen Bajra Sandhi.

Melihat realita tersebut, Pemerintah atau pihak terkait mungkin perlu menyadarkan masyarakat mengenai tujuan dari peraturan yang diterapkan adalah untuk menjaga kebersihan. Sehingga kenyamanan Lapangan Renon sebagai fasilitas publik yang diberikan pemerintah dapat terjaga.

Tujuan yang ingin dicapai pemerintah dari penerapan aturan itu menurut saya tidak muluk-muluk. Sebelumnya ketika kawasan renon banyak dijamuri oleh para pedagang asongan yang tidak bertanggung jawab, membersihkan sampah sisa berjualannya. Keadaan lapangan sangat kumuh. Belum lagi masyarakat yang membuang sampah seenaknya seusai berbelanja memperparah keadaan.

Setelah peraturan diketatkan beberapa waktu lalu, mata memandang sedikit lega melihat kawasan sudah berbenah lebih baik dan bersih. Namun kenyamanan belum sepenuhnya terwujudkan, ketika pedagang kembali menjamur akhir-akhir ini.

Saya menawarkan dua alternatif solusi bagi pemerintah untuk menekan pedagang asongan. Pertama, dengan membuat kawasan khusus pedagang di areal Lapangan Bajra Sandhi. Dengan areal khusus ini kontrol kebersihan kawasan akan lebih mudah dijaga.

Solusi yang kedua adalah dengan menerapkan sanksi kepada pengunjung yang kedapatan berbelanja. Dengan demikian tak ada gula semutpun tak datang. Artinya tak ada pembeli pedagang asonganpun tak mungkin akan membuka lapak kembali. Sehingga nyamannya fasilitas publik akan tercapai. (*)

Kiriman: Desak Made Yunda Ariesta
(Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Udayana)

Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved