Citizen Journalism

Mengenal Sejarah Silat Bali Kuno

Saya telah melakukan penelitian ilmiah selama lebih dari 20 tahun,.menemukan 3.000 jenis Mudra, ada 108 yang berfungsi untuk kesehatan.

Mengenal Sejarah Silat Bali Kuno
ist
Delegasi seminar silat Bali kuno. 

PASRAMAN Seruling Dewata yang berlokasi di Desa Bantas, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan dipilih menjadi lokasi diadakannya seminar internasional tentang salah satu ilmu India kuno bernama Mudra oleh ahli dan peneliti Mudra dari India dan Malaysia yang sudah meneliti secara ilmiah seluk beluk dan manfaat Mudra lebih dari 20 tahun.

“Saya telah melakukan penelitian ilmiah selama lebih dari 20 tahun. Saya menemukan 3.000 jenis Mudra, ada 108 yang berfungsi untuk kesehatan yang akan saya seminarkan,” ungkap Dr R Pasukanna, seorang pembicara dari India melalui penerjemahnya.

Sesepuh generasi IX Perguruan Seruling Dewata, Dr I Ketut Nantra menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa hal ini akan mudah diterima masyarakat Bali.

Sebab masyarakat Bali dari sejarah yang sangat panjang sudah terbiasa dan mengenal Mudra secara umum. Pada sambutannya, sesepuh perguruan juga menceritakan tentang sejarah Silat Bali Kuno yang ada kaitannya dengan tokoh sejarah dari India.

“Perlu diketahui bahwa pasraman Seruling Dewata resmi berdiri pada tahun 463 Saka, oleh Ki Budhi Dharma yang merantau ke nusantara dan sampai di Bali hingga bertemu kakek tua bernama Ki Goplo. Dari Ki Goplo inilah, ia belajar ilmu silat Bali kuno selama 18 tahun lalu mendirikan Perguruan Seruling Dewata yang awalnya hanya 1 dari 12 cabang Perguruan Arda Chandra. 11 cabang lainnya dinyatakan punah ratusan tahun sebelumnya dikarenakan perang besar dengan Perguruan Surya,” ungkap Nantra.

Setelah itu, diperagakan beberapa gerak silat Bali kuno dari 72 aliran yang terdapat dalam perguruan, seperti aliran silat bhumi langit, rajawali, bangau petak, belalang sembah, kelelawar, harimau, kera, silat lima bunga, dan silat delapan penjuru angin. Juga diperagakan berbagai silat senjata yakni senjata kipas, pecut, ruyung (caku), kaitan, tongkat, golok, pedang, celurit, pisau, dan seruling.

Dilanjutkan dengan inti seminar tentang pengenalan beberapa Mudra India Kuno untuk kesehatan di antaranya Vayu Mudra, Hraday Mudra, dan Jal Mudra oleh Dr R Pasukanna.

Ia menyebutkan, setiap Mudra harus dilaksanakan dalam posisi duduk tegak sekurang-kurangnya 20 menit, serta harus dilakukan 30 menit setelah mandi maupun makan, untuk mendapat hasil yang maksimal.

Di akhir acara, semua pihak berharap bahwa hubungan silaturahmi umat se-dharma seperti ini bisa terus dijalin, saling berbagi dan mengarahkan. Sehingga terciptanya rasa persaudaraan bagi umat Hindu di dunia tanpa memandang negara asal.

Dengan catatan, tetap menghargai dan juga bersaudara dengan masyarakat yang berbeda keyakinan, sehingga tercipta kedamaian internasional. (*)

Kiriman: I Gusti Putu Hendranatha Wijaya AMd
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Seni Undiksha

Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved