Citizen Journalism

Memahami Perempuan Bali dan Politik

Secara individu sedikit perempuan Bali yang mempunyai jiwa kepemimpinan. Hal ini disebabkan oleh rasa tidak percaya diri terhadap kemampuannya.

Memahami Perempuan Bali dan Politik
net
ilustrasi 

KESUKSESAN perempuan dalam urusan rumah tangga ternyata tidak diimbangi dengan kesuksesannya dalam dunia politik. Secara kuantitas sudah ada UU No 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif dan UU No 2 Tahun 2008 tentang Parpol, kuota keterlibatan mereka (perempuan) diharapkan mencapai 30 persen khususnya untuk duduk di parlemen, tetapi secara kualitas masih sedikit perempuan Bali yang kritis dan vokal di legislatif.

Penyebab kurang kritisnya perempuan Bali disebabkan oleh faktor individu dan budaya. Secara individu sedikit perempuan Bali yang mempunyai jiwa kepemimpinan. Hal ini disebabkan oleh rasa tidak percaya diri terhadap kemampuannya.

Sedangkan dari faktor budaya, kehidupan di Bali menganut budaya patriarki yang sangat kuat, hal ini menyebabkan terciptanya mind set/pola pikir bahwa perempuan selalu mendapat tempat kedua.

Kaderisasi partai yang kurang matang juga semakin mengurangi jumlah SDM perempuan yang betul-betul berkualitas. Dalam banyak kasus, sering muncul istilah ‘kader dadakan’, individu yang direkrut tidak memiliki kemampuan politik yang mumpuni dan hanya sekedar untuk memenuhi kuota jumlah keterwakilan perempuan di legislatif.

Contoh kasus di Bali, banyak kader yang dipilih tidak diutamakan kemampuan pribadinya melainkan dipilih karena faktor pengaruhnya di masyarakat. Dalam teori komunikasi politik dikatakan bahwa salah satu penyebab utama kegagalan perempuan dalam dunia politik dikarenakan kurangnya kemampuan “komunikasi”.

Salah satu cara menilai tidak vokal/kritisnya politisi perempuan di Bali bisa dilihat dari jumlah isi berita yang memuat tentang kinerjanya.

Selama ini berita di beberapa koran selalu didominasi kaum laki-laki. Kembali lagi hal ini disebabkan oleh keengganan perempuan Bali untuk mau aktif berpendapat. Terkadang masyarakat Bali juga kurang mengenal kader perempuan dari partai politik, hal ini dikarenakan kurang adanya sosialisasi langsung ke tengah-tengah masyarakat.

Walaupun sebagian kecil kader perempuan sudah ada yang melakukan hal tersebut, tetapi alangkah baik jika sebagian besar dapat melakukan hal yang serupa.

Jadi bisa dikatakan sampai saat ini belum tercapai kesetaraan gender bagi perempuan Bali yang berprofesi sebagai politisi. Penyebab utama bukan dikarenakan adanya diskriminasi/dominasi kaum laki-laki, melainkan faktor individu pribadi perempuan yang tidak memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuannya.

Untuk bisa eksis kader perempuan Bali harus mampu menciptakan ide-ide cerdas dan kreatif dalam menarik perhatian masyarakat.

Sebagai contoh sosialisasi dengan berinteraksi langsung dengan warga. Hal ini dapat membuat kader perempuan Bali dikenal pribadinya, visi misinya, serta lebih mengetahui masalah riil yang sedang dihadapi masyarakat.

Cara kedua dengan cara sosialisasi tidak langsung melalui perantara ‘social media’/media sosial. Melalu social media kader perempuan Bali tentu mampu menarik perhatian masyarakat khususnya anak-anak muda untuk berpartisipasi aktif mendukung program-program yang ditawarkan.

Jika para kader perempuan di Bali mau lebih proaktif, pastinya masyarakat akan lebih tahu dan lebih bersimpati pada kader tersebut. (*)

Kiriman IGAAG Dewi Sucitawathi P SSos MSi
Dosen Ilmu Administrasi Negara Undiknas Denpasar

Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved