TribunBali/

Joged Bumbung Bali

Disbud Bali: Joged Bumbung Erotis Salahi Aturan dan Dibiasakan Umbar Seksualitas

Kepala Dinas Kebudayaan Bali Dewa Beratha menyatakan, pihaknya tidak akan membiarkan maraknya pagelaran Joged Bumbung yang mengumbar seksualitas.

Disbud Bali: Joged Bumbung Erotis Salahi Aturan dan Dibiasakan Umbar Seksualitas
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Penampilan Joged Bumbung Suara Mekar Banjar Antap Panjer, Denpasar, di panggung terbuka Ksirarnawa Art Center Denpasar, Selasa (16/6). Tarian joged dengan pakem klasik ini mampu menghibur ratusan penonton. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Baru-baru ini UNESCO telah menetapkan Joed Bumbung sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda pada Rabu (2/12/2015) lalu.

Tarian ini satu dari delapan tari Bali lain yang diajukan dalam Sidang UNESCO di  Windhoek, Namibia, Afrika Selatan.

Tarian ini termasuk sebagai bagian dari Representative List of Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO.

Asal diketahui, Joged Bumbung memiliki stigma porno karena menampilkan tarian yang erotis, dan vulgar.

Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan Bali Dewa Beratha menyatakan, pihaknya tidak akan membiarkan semakin maraknya pagelaran Joged Bumbung yang mengumbar seksualitas.

Apalagi setelah tarian ini ditetapkan sebagai satu di antara sembilan Tari Bali Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Menurut Dewa Beratha, Joged Bumbung yang kerap ditampilkan menyimpang ini menyalahi aturan yang berlaku.

Ketika aturan tersebut dilanggar, sudah seharusnya joged ini tidak boleh dipentaskan.

Namun sayangnya masyarakat cenderung tidak peduli dan membiasakan ini secara terus menerus.

“Rupanya di sini sudah ada pergeseran nilai di masyarakat. Hal ini justru terus dijadikan suatu kebiasaan, inilah yang parah,” ujar Beratha kepada Tribun Bali, Jumat (4/12/2015).

Halaman
1234
Penulis: Cisilia Agustina. S
Editor: Irma Yudistirani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help