Home »

Bali

Jika Abu Vulkanik Serbu Bandara Ngurah Rai, Begini Penanganannya

Dari lembaga tersebut, informasi abu vulkanik tersebut kemudian diteruskan kepada pelaku penerbangan mulai dari awak pesawat hingga penyelenggara.

Jika Abu Vulkanik Serbu Bandara Ngurah Rai, Begini Penanganannya
Tribun Bali/Rizal Fanany
Sejumlah petugas mencoba menutup bagian mesin pesawat agar tidak terkena debu vulkanik di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Rabu (4/11/2015). 

TRIBUN-BALI.com, MANGUPURA - Kementerian Perhubungan bersama instansi terkait menggelar simulasi melalui koordinasi dan uji coba prosedur global dan regional yang dapat diterapkan dalam penanganan sebaran abu vulkanik yang memengaruhi penerbangan.

"Dengan simulasi ini kami ingin melihat bagaimana koordinasi itu bisa efektif antara masing-masing instansi," kata Kepala Sub-Direktorat Operasi, Direktorat Navigasi Penerbangan Kementerian Perhubungan, Dinni Noerdiani ditemui di gedung 'Emergency Operation Center' Bandar Udara Internasional Ngurah Rai di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (17/2/2016).

Dalam simulasi itu digambarkan bahwa Gunung Semeru di Jawa Timur meletus dan memuntahkan abu vulkanik ke udara.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kemudian mengeluarkan informasi tersebut diteruskan kepada Volcanic Ash Advisory Council (VAAC) di Darwin, Australia dan Badan Meteorolgi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Dari lembaga tersebut, informasi abu vulkanik tersebut kemudian diteruskan kepada pelaku penerbangan mulai dari awak pesawat hingga penyelenggara navigasi penerbangan dan pemangku kepentingan lainnya.

Adanya simulasi tersebut berangkat dari pengalaman yang dirasakan oleh operator dan regulator Bandar Udara Internasional Ngurah Rai yang sempat mengalami buka dan tutup sementara selama beberapa hari akibat melestusnya Gunung Raung di Jawa Timur dan Gunung Barujari di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

General Manajer PT Angkasa Pura I Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Trikora Harjo mengatakan, dengan simulasi tersebut ke depan bisa diterapkan pelaku penerbangan sehingga bisa mempersingkat mekanisme penanganan dampak abu vulkanik terhadap dunia penerbangan.

"Dengan (simulasi) ini (pengeluaran Notice to Airmen) bisa lebih singkat karena ini lebih terjalin arahnya ke mana. Dari satelit himawari BMKG dan dikirim ke Jakarta baru ke sini dan kemudian baru dibagi. Dengan ini kami bisa langsung komunikasi ke ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Dunia)," katanya.

Dalam simulasi itu sejumlah instansi terlibat di antaranya Direktorat Perhubungan Udara, Direktorat Navigasi Penerbangan, AirNav BMKG, PVMBG, Angkasa Pura, Otoritas Bandar Udara Wilayah IV Bali-Nusa Tenggara, VAAC, maskapai penerbangan dan instansi terkait lainnya.

Lebih dari 100 gunung berapi aktif saat ini berada di Indonesia melingkar seperti cincin api, dengan potensi terjadinya erupsi cukup besar.

Sehingga hal tersebut perlu penanganan yang koordinatif lintas sektor mengantisipasi dampak abu vulkanik, khususnya di dunia penerbangan.

Indonesia saat ini tengah meningkatkan standar keselamatan penerbangan dan standar keamanan penerbangan sesuai ICAO, juga dalam rangka upaya Indonesia menjadi anggota Dewan ICAO 2016-2019. (*)

Editor: Kander Turnip
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help