Home »

Bali

Polusi PLTU Ini Bisa Mematikan, Radius Bahayanya Capai 200 Km

Greenpeace Indonesia menanggapi sejumlah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang sedang digencarkan pemerintah.

Polusi PLTU Ini Bisa Mematikan, Radius Bahayanya Capai 200 Km
Tribun Bali
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Greenpeace Indonesia menanggapi sejumlah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang sedang digencarkan pemerintah.

Menurut organisasi lingkungan internasional ini, PLTU yang menggunakan bahan batubara bisa membahayakan kesehatan warga hingga menyebabkan kematian.

Bahaya dari polusi udara PLTU adalah polutan yang disebarkan apabila sebuah PLTU menggunakan batu bara bisa menyebabkan kematian dini bagi masyarakat radius 200 Km dari lokasi PLTU.

“Belum banyak masyarakat yang tahu soal ini. Jadi ukuran polutan yang dihasilkan batu bara sangat kecil sehelai rambut manusia kemudian dibagi tujuh, makanya tidak bisa terlihat. Polutan itu jika masuk ke dalam tubuh bisa menyebabkan kanker paru-paru, sakit jantung, stroke, dan penyakit pernapasan dan kardiovaskular lainnya,” kata Rahma Sofiana, Media Officer Greenpeace Indonesia, saat pertemuan pers yang digelar di Rumah Sanur, Jalan Danau Poso, Denpasar, Bali, Jumat (16/9/2016) sore.

Di Bali, PLTU Celukan Bawang yang berada di Bali Utara yakni Singaraja, adalah satu di antara yang menggunakan bahan bakar batubara di Indonesia.

Rahma Sofiana menjelaskan, dampak PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara itu bisa menyebar dan menyatu dengan udara sampai sejauh 200 KM dari lokasi sebuah PLTU batubara.

Zat yang dihasilkan oleh PLTU bahan bakar batubara ini, antara lain PM2,5, merkuri, CO2, SO2, dan NO2.

Zat-zat yang menyebar ke udara sekitar dan dihirup masyarakat, inilah yang disebut telah menjadi pemicu jumlah kematian dini di Indonesia sebanyak 6.500 jiwa per tahun.

Jika rencana pemerintah Indonesia membangun 117 PLTU batubara terealisasi, lanjut Rahma, maka estimasi kematian dini di Indonesia bisa mencapai 15.700 jiwa per tahunnya. “Pemerintah Indonesia berencana meningkatkan kapasitas pembangkit listrik baru sebesar 35 ribu MW, dimana 22 ribu MW di antaranya akan dibuat PLTU batubara,” ungkap Rahma.

Meski demikian, penggunaan batubara sebagai bahan bakar sebuah PLTU diakuinya memang jauh lebih murah, namun tidak sehat bagi kualitas udara.

Greenpeace menilai pemerintah Indonesia belum serius menggunakan bahan bakar terbarukan untuk PLTU di Indonesia.

Itu sebabnya, Greenpeace juga ikut mengajak masyarakat untuk mulai memahami dampak dan dari keberadaan PLTU batubara.

“Karena untuk memulai menggunakan PLTU dengan bahan bakar terbarukan, masyaakat juga harus merubah sikap boros energi menjadi hemat energi. Karena kalau menggunakan PLTU energi terbarukan, apalabia masyarakat tidak hemat energi maka PLTU bisa meledak. Makanya antara pemerintah dan masyarakat harus mulai menyikapi ini,” terang Rahma. (*)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Irma Yudistirani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help