TribunBali/

Citizen Journalism

PSKM Unud Kupas Kesehatan Manusia di Dunia Pariwisata

Dari sisi kesehatan lingkungan, menurut Herry, harus ada Standar Pengelolaan Minimum (SPM).

PSKM Unud Kupas Kesehatan Manusia di Dunia Pariwisata
Istimewa

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Industri pariwisata tidak hanya berbicara tentang dampak ekonomi. Namun lingkungan dan kesehatan, termasuk juga di dalamnya.

Khususnya kesehatan manusia, sebagai pelaku pariwisata yang juga bagian penting dalam pariwisata.

Bali memang tak lepas dari pariwisata.

Namun belum ada konsep yang jelas terkait dampak sustainability tourism terhadap kesehatan manusia.

Karena itulah, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Unud Denpasar, Jumat (23/9/2016) membahas masalah itu dalam sebuah seminar internasional Environmental Health & Sustainable Tourism bertempat di di Gedung Teater Widya Sabha.

"Karena sekarang ini industri pariwisata tidak hanya berhubungan dengan lingkungan saja, tapi juga terhadap kesehatan manusia. Kalau tidak ada konsep jelas dari sustainable tourism terhadap manusia dan lingkungan, tentu akan mengkhawatirkan," ujar Ketua Panitia Seminar, I Gede Herry Purnama.

Dari sisi kesehatan lingkungan, menurut Herry, harus ada Standar Pengelolaan Minimum (SPM).

Memang secara umum sudah ada, namun khusus untuk pariwisata belum ada.

Ia mengambil contoh seperti bagaimana pengelolaan limbah atau sampah yang dari sisi pariwisata pun harus diperhatikan.

"Harus ada standar pengelolaan minimum. Seperti pengelolaan limbah dan sampah. Tidak hanya itu, bahkan untuk handling oleh manusia atau turis itu sendiri. Secara umum memang ada, tapi khusus untuk pariwisata masih belum," papar Herry.

Meski yang menjadi payung adalah pariwisata, lanjut Herry, kolaborasi dari berbagai bidang tetap perku dilakukan.

Intinya adalah, bagaimana penanganan daerah pariwisata agar tetap sehat baik untuk lingkungan dan manusianya.

Herry menjelaskan, seminar ini bertujuan sebagai wadah bagi para praktisi dan peneliti nasional dan internasional terutama di bidang kesehatan lingkungan dan pariwisata, baik berasal dari sektor publik maupun swasta, untuk mendeseminasikan hasil penelitian dan pengalamannya terkait dengan kesehatan lingkungan dan pariwisata yang berkelanjutan.

Peserta yang hadir berjumlah 235 orang dari universitas di Indonesia Timur yaitu Bali, Makassar, Sorong, Maluku Utara, dan Kendari.

Bersamaan dengan Disaster Management Short Course, dalam seminar tersebut juga dibahas bagaimana pentingnya penanganan terhadap terjadinya bencana. Menurut Peter Davey, keynote speakers dari Griffith University Australia, Indonesia masuk dalam red zone terjadinya bencana. Karena itu, Bali sebagai daerah pariwisata harus memikirkan, langkah-langkah yang harus diambil untuk penanganan dan evakuasi. (*)

Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help