Melarat di Pulau Surga

Miskin dan Buta, Menyedihkan Kondisi Suami Istri di Tabanan Ini

Pasangan ini memiliki kekurangan tidak bisa melihat (tuna netra), dengan kondisi ekonomi rumah tangga yang serba kekurangan.

Miskin dan Buta, Menyedihkan Kondisi Suami Istri di Tabanan Ini
Humas Pemprov Bali
Pasangan Wayan Werna dan Ni Nyoman Namiasih yang buta dan hidup miskin di Banjar Buwit Kaja, Desa Pakraman Buwit, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (30/9/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Pasangan suami istri tunanetra dengan kondisi kurang mampu mendapat perhatian Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang mengutus Tim Biro Humas Pemprov untuk mengunjungi pasangan tersebut, di Banjar Buwit Kaja, Desa Pakraman Buwit, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (30/9/2016).

Pasangan Wayan Werna (38) dan Ni Nyoman Namiasih (38) yang memiliki kekurangan tidak bisa melihat (tuna netra), dengan kondisi ekonomi rumah tangga yang serba kekurangan.

Pada saat ditemui, Nyoman Namiasih menceritakan bahwa dirinya dan sang suami memang tidak bisa melihat sejak kecil, dan jalinan hubungan mereka dimulai sejak mereka mengikuti kursus di Panti Sosial Bina Netra Mahatmia pada beberapa tahun silam yang selanjutnya mengantarkan mereka menjadi sepasang suami istri.

Ia mengakui bahwa kehidupan mereka serba kekurangan, dimana saat ini ia masih tinggal bersama mertua (I Ketut Mendra dan Ni Nyoman Senking).

Dalam kehidupan sehari-hari, pemenuhan kebutuhan diperoleh dari menjual porosan (perlengkapan upacara-red), yang mana hasilnya sekitar Rp 50.000, hanya mampu memenuhi kebutuhan makan dan minum.

Namiasih juga menceritakan bahwa, dengan berbekal tongkat ia dan suami rela berjalan kaki menyusuri jalan sekitar rumah hingga sampai beberapa ruas jalan di Tabanan untuk mendapatkan pembeli porosan.

“Saya dan suami menjual porosan dengan berjalan kaki menyusuri jalan di sekitar rumah. Kadang-kadang sampai di Canggu untuk mencari pembeli. Dagangan kami kadang laku dan kadang juga tidak laku,” ujarnya.

Disamping itu, Namiasih juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2014 ia telah melahirkan seorang anak perempuan bernama Ni Luh Wina Lestari dengan kondisi normal.

Namun ketika sang anak baru berumur 1,5 bulan mengalami sesak napas yang kemudian tidak dapat tertolong karena penanganan medis yang lambat.

Pasangan ini berharap dapat membangun panti pijat, mengingat ia dan suaminya memiliki keahlian dalam memijat.

Halaman
12
Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help