Home »

Bali

Heboh, Penemuan Pancuran Arca Naga di Carangsari, Wayan Yuliana Dapat Pawisik Lewat Mimpi

Sebuah pancuran yang bentuknya menyerupai arca kepala naga menggegerkan warga Desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali.

Heboh, Penemuan Pancuran Arca Naga di Carangsari, Wayan Yuliana Dapat Pawisik Lewat Mimpi
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
I Wayan Dapet saat menunjukkan sebuah pancuran berbentuk kepala naga yang terletak di bagian belakang rumahnya di Banjar Mekar Sari, Desa Carangsari, Petang, Badung, Selasa (14/2/2017). 

Sebelum melakukan pembersihan dan penggalian lokasi, Yuliana melakukan pembersihan diri dengan cara melukat dan menjalankan ritual. 

“Meskipun belum lakukan penggalian, feeling saya mengatakan saat itu bahwa pancuran tersebut ada di sini,” terang Yuliana.

Penggalian berjalan selama dua hari, dan dikerjakan secara bergotong royong bersama keluarga dan kerabat Yuliana.

Tepat pada rerahinan Sabuh Mas atau Selasa 24 Januari 2017, pancuran arca naga itu ditemukan.

“Sesuai feeling saya, benar bahwa di titik itu ada sesuatu yang ingin saya cari, dan akhirnya ditemukan,” jelas dia.

Yuliana mengaskan, dirinya percaya dengan peninggalan leluhurnya tersebut, meskipun tidak begitu memahami urusan niskala.

“Saya percaya bahwa tempat ini akan memiliki pengaruh terhadap apa yang terjadi dan menimpa saya dan keluarga selama ini,” ucap Yuliana.

Kini, ia dan keluarganya bertekad untuk membersihkan tempat ditemukannya pancuran kepala naga itu secara keseluruhan, dan kemudian melestarikannya seperti dahulu kala.

Sementara itu, Wayan Dapet mengatakan dirinya tidak mengetahui pasti mengapa tempat tersebut bisa ada dan mengapa tempat tersebut bisa terkubur.

Kendati tidak mengetahui asal-muasal dan sejarahnya, namun Wayan Dapet dan keluarga tetap melangsungkan upacara piodalan di sebuah palinggih yang ada di sekitar tersebut.

Bangunan petirtaan itu, kata Wayan Dapet, memang sudah ada dari dulu.

Namun, arca naga baru ditemukan setelah ada pawisik lewat mimpi.

“Saya tidak begitu mengetahui tempat ini, kapan dibangunnya dan kenapa hingga bisa terkubur. Tapi di palinggih sini, saya tetap melakukan upacara piodalan setiap enam bulan sekali,” jelas Dapet.

Yang diketahui Wayan Dapet lewat penuturan yang didengarnya dari para pendahulunya, ada seorang buyutnya yang menjadi balian (orang pintar). Kemudian, si balian memanfaatkan tempat tersebut untuk melakukan pengobatan.(*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help