TribunBali/

Jika ISIS Hancur, Pengikut Asal Indonesia Akan Kesulitan Pulang, Lalu Apa Yang Akan Terjadi?

Menurut catatan Solahudin, sepanjang 2015/2016 sekitar 350 warga RI dideportasi dari Turki.

Jika ISIS Hancur, Pengikut Asal Indonesia Akan Kesulitan Pulang, Lalu Apa Yang Akan Terjadi?
walmart.com
Ilustrasi bendera ISIS. 

TRIBUN-BALI.COM - Kelompok teroris ISIS saat ini semakin melemah di Suriah dan Irak.

Jika ISIS hancur, para pengikutnya yang berasal dari Indonesia dan masih selamat kemungkinan akan menyebar ke berbagi negara, karena sulit untuk bisa lolos kembali ke Indonesia.

Di sisi lain, di kalangan teroris ISIS ini pun ternyata terjadi korupsi.

"Bisa ke Libya, atau berbagai hot spot di kawasan Asia Tenggara," kata Solahudin, peneliti terorisme pada Universitas Indonesia (UI), dalam kuliah umum di Malbourne University, Australia, Kamis (16/2/2017) malam, yang diikuti wartawan ABC Farid M. Ibrahim.

Solahudin yang mantan Sekjen AJI kini merupakan Visiting Scholar pada Asia Institute Melbourne University.

Menurut dia, karena pihak berwajib di Indonesia telah mengetahui hampir semua pengikut ISIS yang pergi ke Suriah dan Irak, maka para pengikut ini, jika masih hidup, pasti akan kesulitan untuk kembali masuk ke Indonesia dengan mudah.

"Mindanao di Filipina akan menjadi pilihan utama mereka, begitu pula Myanmar," kata Solahudin, seraya menambahkan bahwa Pemerintah Filipina tidak pernah mengantisipasi para eks Suriah atau returnee karena memang hampir tak ada warga Filipina yang pergi ke Suriah gabung ISIS.

Apalagi, kata Solahudin, Mindanao telah dipilih oleh para pemimpin ISIS asal Indonesia sebagai tujuan jika para pengikutnya mengalami kesulitan ke Suriah saat ini.

Bahkan Amir ISIS untuk Asia Tenggara berasal dari sini, yaitu Isnilon Totoni Hapilon.

Saat ini Turki yang menjadi jalur tradisional untuk masuk ke Suriah semakin memperketat perbatasannya, sehingga para pengikut ISIS termasuk dari Indonesia banyak yang tertahan dan dideportasi.

Halaman
1234
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help