Home »

News

Mengapa Menonton Tayangan Bunuh Diri di Sosmed Bisa Membahayakan?

Di beberapa negara lain, media disarankan untuk tidak memberitakan secara detail kejadian bunuh diri, termasuk kasus yang dilakukan para artis.

Mengapa Menonton Tayangan Bunuh Diri di Sosmed Bisa Membahayakan?
AHMED DEEP / AFP
Seorang pria tertunduk sedih di sisi peti yang berisi jasad kerabatnya yang tewas akibat serangan bom bunuh diri di sebuah pesta pernikahan di kota Gaziantep, Turki, Sabtu (20/8/2016), yang menewaskan 51 orang. 

TRIBUN-BALI.COM - Kejadian bunuh diri di Indonesia amat mengkhawatirkan. Bukan hanya angka kejadiannya tinggi, tapi juga pilihan cara bunuh dirinya.

Berita terbaru yang menghebohkan adalah bunuh diri yang dilakukan PI, seorang sopir di Jakarta Selatan, yang menyiarkan langsung aksi bunuh dirinya di Facebook.

Pria berusia 35 tahun itu diduga mengakhiri hidupnya karena putus asa dengan kondisi rumah tangganya.

Baca: Ini Video Detik-Detik Indra Gantung Diri Secara Live di Facebook!

Kasus bunuh diri yang direkam atau disiarkan di media sosial itu memang bukan yang pertama di dunia.

Beberapa kasus juga terjadi di beberapa negara. Itu sebabnya sejak 1 Maret 2017 Facebook menyediakan fitur pencegahan siaran langsung bunuh diri.

Baca: Pria Gantung Diri Secara Live Itu Pernah Komentar di Facebook Nakalnya Istriku

Salah satu hal yang dikhawatirkan dari fenomena merekam aksi mengakhiri hidup adalah kecenderungan meniru (copy cat). Dalam dunia psikologi, hal itu disebut dengan Werther effect.

Baca: NGERI, Gara-Gara Cinta Indra Nekat Bunuh Diri Secara Live di Facebook, Ditonton 69 Ribu Kali!

"Kalau pada mereka yang sedang depresi, berita tentang bunuh diri bisa membuat seperti 'ada teman' dan memunculkan ide untuk ikut bunuh diri," kata dr.Andri, SpKJ, psikiater dari RS Omni Alam Sutera Tangerang saat dihubungi Kompas.com (18/3/2017).

Halaman
12
Editor: I Gusti Agung Bagus Angga Putra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help