TribunBali/
Home »

Bali

Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Bangli Lakukan Konservasi Lontar di Desa Tiga

Sebelum membersihkan lontar, mereka melakukan sembahyang terlebih dahulu.

Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Bangli Lakukan Konservasi Lontar di Desa Tiga
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Tim penyuluh bahasa Bali melakukan konservasi lontar bertempat di kediaman I Nyoman Gerah di Desa Adat Pakraman Tiga, Kecamatan Susut, Bangli, Minggu (19/3/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Muhammad Fredey Mercury

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Delapan anak muda yang tergabung dalam Penyuluh Bahasa Bali, Kabupaten Bangli, pada hari Minggu (19/3/2017) secara bersama-sama lakukan konservasi lontar bertempat di kediaman I Nyoman Gerah di Desa Adat Pakraman Tiga, Kecamatan Susut, Bangli, Bali.

Beberapa dari mereka terlihat sibuk membersihkan lontar dengan memberi minyak sereh uang dicampur dengan alkohol sebanyak 95%, serta mempertebal tulisan di daun lontar menggunakan kemiri yang telah dibakar.

Kepada Tribun Bali, salah satu anggota Penyuluh Bahasa Bali bernama I Ketut Putradana mengatakan, kegiatan konservasi yang mereka lakukan adalah untuk mempelajari isi lontar yang telah diwariskan oleh leluhur, sekaligus merawat lontar yang selama ini jarang dibuka.

Dipaparkannya, sebelum membersihkan lontar, mereka melakukan sembahyang terlebih dahulu.

Secara keseluruhan, lontar milik I Nyoman Gerah (75), yang merupakan Bendesa Desa Adat Pakraman Tiga, kurang lebih berjumlah 15 Cakep, dimana satu Cakep Ada berisi 25 lembar hingga 80 lembar. Panjang Cakep pun bervariasi, dari yang terpendek 15 centimeter hingga 50 centimeter.

"Dari 15 Cakep, ada kurang lebih 5 halaman yang rusak, saat ini kami bersihkan lontar serta pertebal tulisannya, nanti akan kami artikan. Untuk lontar yang rusak, akan dicari sisa kerusakannya, apabila tidak ditemukan akan dicari duplikatnya di Pusdok Denpasar, dan Gedung Kertya, Buleleng" ucapnya.

Lanjutnya, Pria asal Banjar Tegal, Kelurahan Bebalang, Bangli ini mengatakan bahwa selama ini lontar peninggalan leluhur terkesan dikeramatkan, maka dari itu lontar jarang dibuka. Akibatnya, lontar menjadi rusak dimakan usia.

"Ini juga dikeramatkan, maka dari itu kita melakukan upacara sebelum membersihkannya, namun, kebanyakan masyarakat yang mengkeramatkan lontar, membuat lontar itu sendiri rusak," ujarnya.

Putra menyesalkan sikap masyarakat yang justru mengkeramatkan lontar. Menurutnya didalam lontar banyak pelajaran dan ilmu yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Disamping itu, dengan mengkeramatkan lontar, ahli waris selanjutnya akan buta dan tidak bisa membaca pesan yang dituliskan oleh leluhurnya.

Ditempat yang sama, selain membersihkan serta menebalkan tulisan lontar, tim Penyuluh Bahasa Bali juga membagi tugas untuk mengartikan lontar tersebut.

Saat ditanya tentang judul dari Cakep yang dibawanya, Dewa Ngakan Made Suardana mengatakan bahwa cakep yang dibawanya berjudul Putru Sang Hyang Aji Swamandala. Suardana memaparkan, Cakepan berisi 93 lembar lontar, sepanjang 45 centimeter tersebut biasanya menceritakan tentang kegiatan upacara yadnya.

"Biasanya lontar dengan judul Putru Sang Hyang Aji Swamandala menceritakan tentang tatacara dalam pelaksanaan upacara Yadnya, selain itu juga menceritakan tentang bencana alam dan tatacara untuk mengatasinya, misalkan gempa bumi, ada tatacara pelaksanaan upacaranya agar kedepan tidak terjadi hal serupa. Namun ini masih garis besarnya saja, nanti akan dibaca lagi secara keseluruhan," paparnya. (*)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali
Follow >>> https://www.instagram.com/tribunbali
Subscribe >>> https://www.youtube.com/Tribun Bali

Editor: I Gusti Agung Bagus Angga Putra
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help