TribunBali/
Home »

Bali

Hari Raya Nyepi

Jangan Ada Hoax Lagi Menjelang Nyepi!

Tahun lalu menjelang Hari Raya Nyepi juga ada beberapa berita hoax yang ramai di Bali yang juga menyangkut warga NTT.

Jangan Ada Hoax Lagi Menjelang Nyepi!
Tribun Bali/AA Gde Putu Wahyura
Deklarasi Anti Hoax dan penyematan pin anti Hoax dalam Sarasehan membangun kesadaran bersama melawan Hoax, Hari Pers Nasional dan Hut ke-71 PWI Provinsi Bali, Inna Bali Denpasar, Senin (20/3/2017). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sejumlah tokoh masyarakat, kalangan media, akademisi dan LSM serta kepolisian sepakat untuk melawan hoax di Bali.

Terlebih jelang perayaan keagamaan seperti Hari Raya Nyepi biasanya sering ada hoax atau berita palsu yang beredar. Karena itu berita hoax harus dilawan. 

Ketua LSM Flobamora Bali, Yusdi Dias memaparkan bahwa kata kunci dari berita hoax harus menggali bagian berita yang salah dengan data yang ada.

Tahun lalu menjelang Hari Raya Nyepi juga ada beberapa berita hoax yang ramai di Bali yang juga menyangkut warga NTT.

“Ada warga dari etnis NTT.  Ditulislan bahwa karena Nyepi tempat usahanya sepi. Ini kan orang pada ribut jadinya, untungnya kami cari tahu saat kebenarannya saat ngembak geni (sehari setelah nyepi). Ternyata anak ini enggak tahu berita itu, laporlah ke Polda bahwa ada yang meretas,” ujarnya dalam Sarasehan Membangun Kesadaran Bersama Melawan Hoax, dalam rangka Hari Pers Nasional dan HUT ke-71 PWI Bali, di Inna Bali Denpasar, Senin (20/3/2017).

Kabar itu kemudian diketahui adalah hoax. Menurutnya, membuat orang tersinggung dan memecah belah adalah tujuan dari berita hoax.

Karena itu, diharapkan tidak ada lagi hoax menjelang hari keagamaan.       

Perwakilan PWI Pusat yang juga Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudibyo mengatakan, bukan hanya orang yang share berita hoax saja, namun perusahaan sebagai penyedia layanan yang membagikan berita hoax juga harus bertanggung jawab terkait dengan konten tersebut.

“Undang-undang ITE belum dibedakan produksi hoax dan perusahaan hoax,” ujarnya.

Literasi pendidikan terkait hoax juga harus masuk dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ini karena berbicara soal hoax bukan hanya menyebarkan hoax, tetapi masalahnya pada orang yang membikin hoax. 

Halaman
12
Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help