TribunBali/
Home »

Seleb

Ditinggal Sosok Ayah Saat Kecil, Ardina Rasti Beruntung Punya Ibu yang Tegar

Ardina Rasti (31) menjadi satu dari sekian banyak anak-anak yang menjadi korban perceraian orangtua

Ditinggal Sosok Ayah Saat Kecil, Ardina Rasti Beruntung Punya Ibu yang Tegar
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Ardina Rasti di Rumah Amalia Ciledug, Tangerang 

TRIBUN-BALI.COM, MENTENG - Ardina Rasti (31) menjadi satu dari sekian banyak anak-anak yang menjadi korban perceraian orangtua.

Namun, hal itu tidak lantas membuat mantan kekasih Eza Gionino itu minder dan tumbuh menjadi pribadi yang tertutup.

Rasti justru tumbuh seperti anak-anak kebanyakan yang ceria dan bisa hingga seperti sekarang ini.

Menurutnya hal itu tidak lepas dari kehadiran ibundanya yang tegar, Erna Santoso, yang mampu membuat perbedaan.

"Aku pribadi untungnya punya bunda yang tegar banget, bisa meng-cover dengan indah. Aku nggak merasa dampak yang buruk. Aku rasa nggak ada yang seberuntung aku," ujarnya saat berada di Rumah Amalia, Ciledug, Tangerang, Minggu (16/4/2017).

Untuk itu lah pemain film 'Dreams' tersebut ingin membagikan pengalamannya kepada anak-anak yang senasib dengannya yang berada di Rumah Amalia.

Rasti ingin membagikan bahwa anak-anak korban perceraian orangtua butuh figur dan lingkungan yang mendukung.

"Kamu nggak sendiri loh, korban perceraian itu banyak banget. Semuanya tergantung lingkungan. Kalau lingkungan kamu sehat, kamu pasti sehat. Kalau lingkungan kamu nggak sehat ya nggak. Makanya rumah pemulihan itu sangat penting," ungkapnya.

Ia pun berharap Rumah Amalia bisa menjadi pioneer bagi yang lain agar ada banyak Rumah Amalia berikutnya yang bisa didirikan.

"Ini kan inspiratif banget. Semoga ada kelanjutan lagi ke depannya supaya anak-anak korban perceraian mendapatkan penanganan yang tepat," ucapnya.

Sementara itu Founder Rumah Amalia, Muhamad Agus Syafii mengatakan pihaknya memang menyediakan sejumlah program kegiatan untuk anak-anak yang menjadi korban perceraian orangtua.

Dengan begitu diharapkan kondisi kejiwaan mereka bisa pulih kembali seperti dulu.

"Kami ada sesi curhat SMP SMA. Kalau nggak bisa, kita minta menulis dan menggambar sehingga kemudian kita tahu terapi apa yang akan digunakan. Salah satunya teater untuk terapi. Misalnya cerita ayahnya meninggal. Itu sebagai pemulihan," tuturnya. (*)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali
Follow >>> https://www.instagram.com/tribunbali
Subscribe >>> https://www.youtube.com/Tribun Bali

Editor: I Gusti Agung Bagus Angga Putra
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help