TribunBali/

Kamar Habib Rizieq Diteror Sniper Sungguhan atau Hanya ‘Sniper-Sniperan’? Ini Penjelasannya

Benda seperti kaca atau triplek juga bisa retak atau tembus jika dihantam peluru senapan angin dari jarak tertentu.

Kamar Habib Rizieq Diteror Sniper Sungguhan atau Hanya ‘Sniper-Sniperan’? Ini Penjelasannya
Facebook Ratono Efendi
Facebook Ratono Efendi yang mengabarkan ada upaya penembakan menggunakan sniper terhadap Rizieq Shihab. 

TRIBUN-BALI.COM -- Benar atau tidak kabar yang memberitakan bahwa imam besar FPI KH Rizieq Syihab merasa terancam jiwanya karena telah diincar penembak jitu atau sniper tetap merupakan berita yang menarik.

Habib Rizieq dan keluarganya yang saat ini diberitakan telah menyingkir ke suatu tempat demi mencari keselamatan menunjukkan bahwa ancaman dari penembak jitu tampaknya memang ada.

Tapi tidak mudah untuk mengidentifikasi bahwa kamar pribadi Habib Rizieq di kawasan Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat, kacanya mengalami retak karena tembakan sniper.

Pasalnya seorang sniper yang sesungguhnya memiliki kemampuan menembak pada jarak minimal 600 meter menggunakan senapan laras panjang khusus kaliber 7.62 mm.

Seorang sniper juga merupakan orang yang terlatih karena untuk mendapatkan kemampuan sebagai sniper, ia harus menjalani pendidikan minimal dua tahun.

Dalam kasus kamar Habib Rizieq di Mega Mendung yang kacanya retak karena diduga oleh tembakan seorang sniper, maka jika yang digunakan adalah peluru kaliber 7.62 mm, kaca jendela atau pintu tidak hanya retak tapi hancur berantakan.

Benda yang ada di dalam kamar pun pasti ada yang hancur akibat hantaman peluru kaliber 7.62 mm yang juga biasa digunakan untuk senapan serbu AK-47 itu.

Ada kemungkinan jika kaca yang retak karena ulah penembak jitu, maka senapan yang digunakan adalah senapan angin.

Penembak jitu bersenjata senapan angin pun tidak layak disebut sebagai sniper karena dipastikan tidak pernah menjalani pendidikan dan pelatihan sebagai seorang sniper.

Di kawasan Bogor banyak orang memiliki senapan angin dan kerap digunakan untuk berburu burung, tupai, garangan, biawak, dan lainnya.

Para pemburu berbekal senapan angin itu juga banyak yang mahir menembak dan “secara sembarangan” menamakan dirinya sebagai sniper.

Tentu saja “sniper-sniperan” dan bukan sniper sungguhan.

Senapan angin dengan peluru kaliber 4.5 mm sesungguhnya merupakan senapan yang berbahaya jika tembakannya dari jarak dekat diarahkan ke manusia.

Benda seperti kaca atau triplek juga bisa retak atau tembus jika dihantam peluru senapan angin dari jarak tertentu.

Jadi siapapun, bila  kamar pribadi atau rumahnya sering dijadikan sebagai sasaran tembak senapan angin jelas merasa terganggu. Bahkan merasa terteror. ( */Agustinus Winardi)

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help