Sapi Bali Unggul dengan Sistem IVMS di Lombok Utara
Melalui kelompok peternak inilah selama beberapa tahun dilakukan transformasi pengetahuan dan perubahan mindset masyarakat.
Penulis: Kander Turnip | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, TANJUNG - Sapi Bali menjadi ternak unggulan yang dikembangkan dengan sistem Integrated Village Management System (IVMS) yang dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BNTP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara komunal bersama warga di Dusun Karang Kendal, Desa Segara Katon, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, NTB.
"BPTP Balitbangtan NTB melakukan pendampingan melalui kerjasama dengan dukungan dana dari ACIAR bersama Universitas Queensland di Australia dan Universitas Mataram. Pendampingan awal dilakukan sejak September 2009 lalu," ujar Dr Tanda Sahat Panjaitan MSc, Projec Coordinator dari BPTP NTB di sela-sela kunjungan rombongan International Media Visit (IMV) Australia 2017, di Dusun Karang Kendal, Kamis (4/5/2017).
Tanda mengatakan, sebelum pendampingan, kondisi warga dan peternakan terbilang mengkhawatirkan.
"Waktu itu sapi dipelihara di sekitar rumah warga dengan kandang sederhana dibangun dekat atau menempel dengan rumah. Lingkungan rumah becek, kotor terutama saat musim hujan dan bau yang tidak sedap. Tingkat reproduksi dan menghasilkan anak tiap tahun rendah. Pertumbuhan anak lambat," ujar Tanda.
Tanda mengatakan, pendampingan ditindaklanjuti dengan pendirian Kelompok Peternak Ngiring Datu (Mengikuti pemerintah, Red) pada 10 April 2010 lalu.
Melalui kelompok peternak inilah selama beberapa tahun dilakukan transformasi pengetahuan dan perubahan mindset masyarakat.
"Waktu itu dibicarakan dengan masyarakat dan dibikin hitung-hitungan untung rugi bagi masyarakat dan lingkungan jika sapi berada di dekat rumah. Sedangkan terkait kerjasama dengan Australia berupa capacity building. Perbaiki kapasitas. Basisnya memotivasi dan memperbaiki kapasitas, bukan bantuan," ujar Tanda.
Sekretaris Kelompok Peternak Sapi Ngiring Datu, Murdah, mengatakan, beberapa keunggulan dan keuntungan yang diperoleh sejak pendampingan adalah jarak lahir lebih cepat. Biasanya 16 bulan, sekarang 11,2 bulan.
Penggemukan juga terbilang cepat dan kualitas daging bagus.
Harga daging sapi hasil perkembangbiakan dan penggemukan di kelompok Ngiring Datu, kata Murdah, berkisar Rp 52 ribu per kg daging sapi hidup.
Harga itu, kata Murdah, lebih mahal dibanding sapi dari peternak lain di NTB dan sapi impor, sekalipun.
"Dulu 1 sapi jantan paling-paling 1 kali pakai untuk membuat bunting sapi betina. Sekarang 1 sapi jantan bisa membuntingi 50 sapi betina. 5 betina per hari. Libidonya bisa dibikin naik sendiri. Pejantan harus dipilih yang berkualitas tinggi," kata Murdah.
Menurut Murdah, tiap tahun mereka panen minimal 50 ekor sapi.
Di tempat itu ada posyandu sapi untuk mengecek kesehatan sehingga bisa diketahui kesehatan sapi dengan menghitung nutrisi dan menimbang berat badan setiap bulan.
"Kalau nutrisi bagus, berat badan cepat naik. Dengan begitu peternak bisa menentukan harga jual. Pedet (anakan) sapi Bali bisa 14 kg per ekor. Kita biasanya memberikan nutrisi legume pohon, seperti turi, lamtoro, kelor, dan gamal. Kualitas bibit biasanya bagus. Setelah lihat hasilnya bagus, baru penggemukan. 1 ekor sapi dewasa bisa punya bobot 250 kg. Jika dapat harga Rp 50 ribu per kg daging hidup, bisa dibayangkan berapa hasilnya per ekor," ujar Murdah.
Murdah mengaku sangat diuntungkan dengan adanya program pendampingan dan membuat kelompok peternak.
"Dulu angka kematian sapi tinggi dan karena kandangnya tersebar di rumah-rumah, sering terjadi kehilangan sapi. Dengan berkelompok, sekarang semua iru bisa terkontrol dan ada manajemen pakan. Sudah enam tahun ini tidak pernah ada yang hilang dan tidak ada angka kematian," kata Murdah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kunjungan_20170504_142536.jpg)