TribunBali/

Antusiasme Anak-anak yang Tak Surut Melestarikan Kesenian Tari Bali

Sementara itu anak-anak yang belum mendapat giliran menari, terlihat duduk-duduk di lantai banjar. Beberapa ada yang berlarian, sebagian lagi memegang

Antusiasme Anak-anak yang Tak Surut Melestarikan Kesenian Tari Bali
Tribun Bali/Widyartha Suryawan
Antusiasme anak-anak dalam mengikuti instruktur tari 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Widyartha Suryawan

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - "Ingat nyeledet. Dettt... pong... Gerakan kaki dan tangan mengikuti irama gamelan. Ambil posisi, ngagem yang sempurna!"

Begitulah instruksi yang diberikan I Ketut Suarjana (35) kepada anak-anak anggota Sanggar Tari Ciwa Surjana.

Minggu pagi (7/5/2017), Banjar Suka Duka Bhuwana Sari, Ungasan, Badung, Bali, tampak ramai. Anggota sanggar yang perempuan meliuk-liuk menarikan Tari Cilinaya. Gerakannya lincah, meskipun sesekali ketinggalan tempo gamelan.

Sedangkan, anggota yang laki-laki menarikan Tari Baris. Tak bosan-bosan Suarjana mengingatkan murid-muridnya itu untuk 'nelik'; karena daya pikat Tari Baris adalah mata penarinya yang melotot, juga gerakan-gerakannya yang gagah.

Sementara itu anak-anak yang belum mendapat giliran menari, terlihat duduk-duduk di lantai banjar. Beberapa ada yang berlarian, sebagian lagi memegang gawainya.

Mereka rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar. Tetapi, semangatnya untuk melestarikan kesenian tari Bali tak pernah surut.

Wika, siswa kelas 2 SD mengaku sudah belajar menari Bali sejak masih kecil. Kini ia menguasai Tari Baris, Tari Wirayudha, Tari Kebyar Duduk, hingga Tari Jauk.

"Saya sudah belajar menari sejak kecil sekali," ujar Wika.

Menurut Suarjana yang lulusan ISI Denpasar tahun 2005, materi tari yang diberikan menyesuaikan kemampuan peserta.

"Untuk penari laki-laki pemula yang baru belajar biasanya diberikan dasar tari seperti Wirayudha dan Baris. Untuk perempuan, mulai dari Tari Puspanjali, Pendet, Kupu-kupu Tarum, hingga Cilinaya," ujar Suarjana.

Suarjana sudah merintis sanggarnya itu sejak 15 tahun lalu. Kini murid sanggarnya mencapai 90 orang.

"Bulan Juni nanti anak-anak akan pentas di GWK," lanjut pria asal Nusa Penida yang tinggal di Pedungan, Denpasar, ini. 

Untuk memantapkan kemampuan murid-muridnya dalam menari, setiap enam bulan diadakan evaluasi atau ujian kenaikan tingkat. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur seberapa mahir kemampuan anggota sanggar menguasai sebuah tarian.

Latihan menari Sanggar Ciwa Surjana ini dilaksanakan dua kali seminggu. Dalam sebulan, anak-anak cukup membayar biaya latihan sebesar Rp 70.000 dengan delapan kali pertemuan.(*)

Editor: imam rosidin
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help