TribunBali/

Seiring Perubahan Gaya Hidup Masyarakat, Tradisi Banten Pajegan Terancam Punah

Seorang krama nyuwun banten pajegan di Pura Samuantiga, Rabu (10/5). Banten ini memiliki tinggi 2,5 meter dengan berat hampir mencapai 50 kilogram.

Seiring Perubahan Gaya Hidup Masyarakat, Tradisi Banten Pajegan Terancam Punah
Tribun Bali
Seorang krama nyuwun banten pajegan di Pura Samuantiga, Rabu (10/5). Banten ini memiliki tinggi 2,5 meter dengan berat hampir mencapai 50 kilogram. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Wayan Eri Gunarta

 TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di tengah hiruk pikuk lalu lintas di Jalan Raya Bedulu, Blahbatuh Gianyar, Ni Gusti Ayu Mudiani tampak santai nyuwun banten pajegan be siap, Rabu (10/5/2017) sore. Istri jro Bendesa Bedulu inipun menjadi pusat berhatian.

 Banten tersebut memiliki tinggi 2,5 meter dengan berat hampir mencapai 50 kilogram. Hebatnya lagi, banten ini dibawa sambil berjalan kaki dari rumahnya, di Banjar Batulumbang menuju Pura Samuantiga, berjarak 1.200 meter.

Jro Nyoman Kelung (80), orang tua jro Bendesa Bedulu mengatakan, tahun 1970 an, setiap warga menghaturkan banten pajegan. Namun seiring perubahan gaya hidup masyarakat, jumlahnya terus berkurang.

Bahkan dua tahun lalu, pejabat pemerintahan menawarkan dana agar tradisi ini kembali dijalankan beramai-ramai. Namun sayangnya sebagian besar masyarakat keberatan.

Keberatan ini, kata dia, disebabkan tidak adanya generasi muda yang bisa nyuwun banten. Hanya keluarganya lah yang kini masih rutin menghaturkan banten pajegan setiap odalan di Pura Samuantiga, Bedulu.

Seorang krama nyuwun banten pajegan di Pura Samuantiga, Rabu (10/5). Banten ini memiliki tinggi 2,5 meter dengan berat hampir mencapai 50 kilogram.
Seorang krama nyuwun banten pajegan di Pura Samuantiga, Rabu (10/5). Banten ini memiliki tinggi 2,5 meter dengan berat hampir mencapai 50 kilogram. (Tribun Bali)

Sementara warga lainnya hanya melakukan untuk kaul. Meskipun menghaturkan banten pajegan bukan persembahan wajib, namun pihaknya tak ingin menghapus tradisi ini.

 “Dulu waktu saya masih kecil, yang menghaturkan banten pajegan jumlahnya ratusan. Sekarang tinggal saya saja, sementara warga lainnya hanya ngaturan saat bayar kaul saja. Saya tidak berani ikut-ikutan menghentikan persembahan ini, karena sudah diwariskan leluhur. Takut disalahkan leluhur,” ucapnya.

Jro Kelung mengatakan, banten pajegan merupakan simbol persembahan untuk Ida Bhatara Gunung Agung. Karena itu, piranti persembahan yang ditaruh dalam banten pajegan, semuanya berupa hasil bumi, buah-buahan, jajan, dan lauk.

“Di Pura Samuantiga ada pelinggih untuk Bhatara Gunung Agung, kerena itu bantennya ditaruh di pelinggih itu,” ucapnya.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: imam rosidin
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help