TribunBali/

Mahima Tularkan Spirit Nyala dalam Diam Lewat Musikalisasi Puisi

Komunitas belajar yang berpusat di Bali Utara itu membawakan sembilan musikalisasi puisi yang dimainkan oleh para anak muda

Mahima Tularkan Spirit Nyala dalam Diam Lewat Musikalisasi Puisi
Istimewa

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- "The Solitude Of Burning Hair", itulah judul pementasan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh Komunitas Mahima di panggung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar, Sabtu (13/5/2017) malam dalam gelar seni akhir pekan Bali Mandara Nawanatya.

Komunitas belajar yang berpusat di Bali Utara itu membawakan sembilan musikalisasi puisi yang dimainkan oleh para anak muda.

Di panggung yang telah dikemas seperti alam lepas itu, sejumlah anak muda mencoba menghidupkan puisi-puisi dengan aransemen musik.

Meski alat-alat yang digunakan terlihat cukup sederhana, namun mereka mencoba menyalakan api puisi melalui spirit suara, alat musik, dan sukma mereka yang membuat para penonton diam tanpa kata.

"Penampilan kami kali ini bertajuk The Solitude Of Burning Hair. Artinya bukan secara fisik rambut yang terbakar, tapi ini adalah spirit, dan jiwa. Artinya kami ingin menampilkan spirit dari dalam. Coba kita sebuah api, sebenarnya api itu diam tapi menyala. Meskipun diam, kan bukan berarti tidak menyala," kata Kadek Sonia Piscayanti, Kepala Suku Komunitas Mahima.

Sembilan musikalisasi puisi yang mereka bawakan beragam mulai dari yang bertemakan tentang kemanusiaan, hingga kehidupan alam. Sembilan puisi itu di antaranya Burning Hair karya Kadek Sonia Piscayanti; Nyepi karya I Wayan Arthawa; Dongeng dari Utara karya Made Adnyana Ole; Solitude karya Umbu Landu Paranggi; Aku Danau; Aku Laut karya Tan Lioe Ie; Kembalikan Indonesia Kepadaku karya Taufik Ismail; Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono; dan Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul.

Sembilan puisi itu mereka kemas dengan begitu apik dalam lantunan nada gitar, piano, drum, dan alat musik modern lainnya. Pada penampilan-penampilan musikalisasi di sejulah tempat, Mahima dikenal sebagai komunitas yang sering bereksperimen dengan berani. 

Hampir setiap gelaran seni besar baik di Bali Utara, Barat dan Selatan, Komunitas Mahima selalu hadir untuk menghidupkan rumah-rumah seni yang ada di Bali. Komunitas mahima rencananya nanti bakal tampil pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2017, dan pada Bali Mandara Mahalango 2017.

"Mahima ini sebagai tempat belajar bagi siapa saja dan belajar apa saja khususnya soal penulisan, sastra, teater, dan lainnya. Nah dengan adanya event seperti Nawanatya ini, setidaknya ada tempat buat kita untuk menunjukkan hasil dari proses yang telah dilalui," ujar Pembina Komunitas Mahima, Made Adnyana Ole. (*)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help