TribunBali/
Home »

Techno

» News

Bitcoin Pernah Diminta Teroris Mall Alam Sutera Dan Sering Dipakai untuk Transaksi Film Porno

Leopard Wisnu Kumala (29) adalah penjahat Indonesia pertama yang melakukan aksi terorisme dan meminta tebusan dengan Bitcoin.

Bitcoin Pernah Diminta Teroris Mall Alam Sutera Dan Sering Dipakai untuk Transaksi Film Porno
Warta Kota
Mata uang virtual ini telah membuat pria Norwegia jadi miliarder. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Kendati masih belum cukup populer di Indonesia, transaksi dengan Bitcoin sudah menjadi hal yang lumrah di negara lain.

Bitcoin juga sering dipakai sebagai alat transaksi kejahatan.

Diberitakan sebelumnya oleh Warta Kota, lembaga riset keamanan cyber Communication and Information System Security Research Centre (CISSReC) menuturkan bahwa bomber Mal Alam Sutera, Leopard Wisnu Kumala (29) adalah penjahat Indonesia pertama yang melakukan aksi terorisme dan meminta tebusan dengan Bitcoin.

Baca: Teroris Siber Penyebar WannaCry Uang Bitcoin, Apa dan Bagaimana Cara Transaksinya?

Baca: Heboh Serangan WannaCry, Komputer dan Wi-fi di Mabes Polri Dimatikan, Kembali Kerja Manual

Untuk diketahui, Bitcoin adalah sebuah mata uang elektronik yang proses transaksinya dilakukan via internet tanpa menunjukkan identitas pemilik akun mata uang tersebut.

"Unsur anonimitas dalam penggunaan Bitcoin memang kerap kali digunakan untuk hal-hal kriminal. Di negara lain, penjahat maupun organisasi kriminal banyak yang memakai Bitcoin untuk melakukan modus operandinya," kata Ketua CISSReC, Pratama Persadha, Jumat (30/10).

Menurut Pratama, transaksi Bitcoin kerap kali digunakan mulai untuk kebutuhan kenakalan remaja, sampai tindakan kriminal serius.

"Mulai dari beli film porno, narkoba, pencucian uang, sampai perdagangan manusia. Transaksi dengan Bitcoin bisa memudahkan semuanya itu, karena tidak ada bukti resi pembayaran yang bisa dilacak," katanya.

Khusus untuk kasus Leopard, Pratama mengatakan bahwa aksi terorisme dengan motif uang, dalam hal ini Bitcoin, lebih berbahaya ketimbang aksi teroris yang dilakukan kelompok orang dari paham tertentu.

"Aksi teror seperti ini jauh lebih mudah ditiru, karena hanya membutuhkan motif sederhana. Keadaan ekonomi yang sulit pun bisa jadi trigger penjahat lain meniru cara ini. Belum lagi dengan banyaknya tutorial pembuatan bom yang banyak bisa ditemui di situs internet," katanya.(*)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali
Follow >>> https://www.instagram.com/tribunbali
Subscribe >>> https://www.youtube.com/Tribun Bali

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help