TribunBali/
Home »

Bali

Hari Kebangkitan Nasional,  Ribuan Masyarakat Bali Turun ke Jalan Lawan Gerakan Radikalisme!

ribuan masyarakat Bali dari elemen lintas Agama turun ke jalan untuk mendeklarasikan penolakan paham Radikalisme.

Hari Kebangkitan Nasional,  Ribuan Masyarakat Bali Turun ke Jalan Lawan Gerakan Radikalisme!
Tribun Bali/I Made Ardhiangga
Ribuan masyarakat Bali dari elemen lintas Agama turun ke jalan untuk mendeklarasikan penolakan paham Radikalisme, Sabtu (20/5). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hari Kebangkitan Nasional diperingati hari ini, Sabtu (20/5/2017). Momentum kebangkitan nasional bagi para pemuda bangsa, dimaknai sebagai kebangkitan melawan segala paham yang ingin merongrong Pancasila.

Atas hal ini, ribuan masyarakat Bali dari elemen lintas Agama turun ke jalan untuk mendeklarasikan penolakan paham Radikalisme.

Gus Nuril, yang menjadi pembicara sebelum adanya aksi turun jalan (deklarasi) menyampaikan dalam forum GRAK (Gerakan Anti Radikalisme) menyatakan, bahwa pembicaraan mengenai Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia sudah tuntas.

Sehingga, segala hal atau paham yang berusaha mengubah, harus disingkirkan dari Bumi Indonesia.

"Saudara itu ialah Satu Udara. Kita menghirup udara yang sama. Maka bubarkan segala paham atau ideologi yang mencoba untuk menhancurkan persaudaraan di bumi Nusantara," kata Gus Nuril.

Gus Nuril mengaku, menolak keras kelompok FPI, GNPFMUI dan mendukung pembubaran HTI.

Ia secara pribadi tidak setuju dengan adanya paham atau organisasi itu yang ingin mengubah ideologi bangsa Indonesia yang sudah tertata dan menghargai segala jenis perbedaan di Indonesia.

Sementara itu, Sosiolog Universitas Udayana, Wahyu Budi Nugroho menyatakan, ‎saat ini yang diperlukan ialah penguatan kembali pancasila sebagai ideologi bangsa.

Yang paling inti, ialah semua yang anti Pancasila perlu ditindak tegas.

Ia mengakui, bahwa memang persoalan mendasar dari adanya gerakan radikal itu ialah persoalan keadilan atau kesejahteraan rakyat.

Sebab, ketika berbicara negara Islam di Brunei dan Malaysia, dan menjejalkan persoalan radikalisme, maka akan menjadi bahan tertawaan.

"Tugas Pemerintah itu mensejahterahkan. Sehingga, bisa menangkal segala bentuk fantasi-fantasi (gerakan radikal) seperti itu . Masyarakat yang sehat (sejahtera) tidak akan ada ide seperti itu," ucapnya.

Ia menegaskan, bahwa ‎Indonesia memang disadari oleh para penjajah dari kaum gerakan radikal, sangat mudah termakan issue mengenai hal itu.

Dan itulah yang membuat gerakan radikal dengan sentimen ‎agama, mulai tumbuh. Hanya saja, para pemuda mesti sadar akan hal itu.

"Pemerintah sudah tahu bahwa isu-isu kesejahteraan yang dijejalkan mengancam NKRI. Pemerintah sudah berbuat untuk‎ menghadapi isu itu," tegasnya. (*)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: ady sucipto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help