TribunBali/

Melihat Bali Masa Lalu Dari Piringan Hitam, Budaya Hingga Permainan Tradisional

Kedua paham nasionalis bahwa arsip dan peninggalan budaya ini wajib dipulangkan ke negara asal karena merupakan identitas dan nilai kebangsaan

Melihat Bali Masa Lalu Dari Piringan Hitam, Budaya Hingga Permainan Tradisional
Tribun Bali/AA Gde Putu Wahyura
Diskusi dengan tema masa depan pengarsipan budaya bali, pentingkah? Yang dilaksanakan di Kantor Perwakilan Harian Kompas, Denpasar, Selasa (30/5) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ada dua tafsir yang kuat mengenai bagaimana suatu peninggalan budaya harus dijaga dan dilestarikan.

Paham pertama yakni Paham Internasionalis, bahwa begitu banyak perdebatan mengenai repratriasi yakni bentuk pelestaraian yang bisa dilakukan semua orang.

Sehingga negara, fasilitas, SDM yang memiliki fasilitas terbaik yang boleh memiliki sejarah dan arsip peninggalan masa lalu ini.

Kedua paham nasionalis bahwa arsip dan peninggalan budaya ini wajib dipulangkan ke negara asal karena merupakan identitas dan nilai kebangsaan.

Kira-kira itulah yang menjadi pembuka awal dari Koordinator Arsip Bali 1928, Marlowe Bandem, yang langsung memantik diskusi dengan tema masa depan pengarsipan budaya Bali di Kantor Perwakilan Harian Kompas, Denpasar, Selasa (30/5/2017).

Dikatakannya, ada beberapa contoh seperti piringan hitam, brosur Kapal Pesiar tahun 1930 tentang Bali, ada juga perangko yang dikumpulkan untuk karya Bali 1928 oleh ia dan timnya.

Dikatakannya pengarsipan budaya Bali ini sangat penting karena generasi muda sekarang harus melihat apa saja yang dahulu ada dan hilang dari beberapa literatur budaya Bali.

“Sebagai contoh ada piringan hitam asli 78 rpm, rekaman bersejarah 1928-1928 berisikan pupuh adri. Dan piringan ini adalah satu-satunya cakram yang masih tersisa di dunia. Piringan ini ditemukan di Universitas Amsterdam. Kehadiran benda fisik seperti ini penting sekali dimasa mendatang,” ujar Marlowe.

Pihaknya dengan tim Bali 1928 juga melakukan agenda pemutaran film, masuk ke banjar.

Awalnya saat memutar film ini dan dibawah teriknya cuaca Bali seseorang yang tadinya tidak memperhatikan film tersebut langsung mengatakan bahwa kejadian di film tersebut adalah benar sekitar tahun 1928.

Halaman
12
Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help