Berita Banyuwangi

Cegah Inflasi Gerakan Stabilisasi Pangan di Banyuwangi Diperpanjang Hingga Akhir Juli

Selain juga, mewaspadai terjadinya lonjakan harga sembako pasca lebaran. Ini juga upaya antisipatif pemkab untuk mencegah inflasi

Cegah Inflasi Gerakan Stabilisasi Pangan di Banyuwangi Diperpanjang Hingga Akhir Juli
Istimewa/Surya
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, saat meninjau GSP di Pasar Banyuwangi beberapa waktu lalu ? 

TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI - Gerakan Stabilisasi Pangan (GSP) yang digelar Badan Urusan Logistik (Bulog) bekerja sama dengan Pemkab Banyuwangi, diperpanjang hingga akhir Juli 2017 mendatang.

Kepala Sub Divre Bulog Banyuwangi, R. Gunadharma, mengatakan GSP ini disambut baik oleh warga Banyuwangi. Sembako di tempat ini harganya lebih rendah dari harga pasaran.

“Sejak hari pertama digelar, bazaar kami selalu ramai dikerumuni warga yang ingin belanja sembako murah," ungkap Awang, sapaan akrabnya.

Sejumlah bahan pokok yang dijual selama GSP ini meliputi beras premium, minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, bawang putih, hingga bawang merah.

Semua komoditas tersebut dijual di bawah harga pasar. Seperti bawang putih dijual dengan harga Rp. 41.000/kg. Beras premium dijual Rp. 9.850 /kg, minyak goreng dijual dengan harga Rp 11.100 / liter, gula pasir Rp. 11.900 /kg, dan bawang merah Rp. 21.000 /kg.

GSP dilakukan dengan membuka bazar tetap maupun keliling menggunakan kendaraan khusus.

Bazar tetap digelar setiap hari di tiga titik di Kecamatan Banyuwangi, yaitu di depan Gedung Juang, Pasar Blambangan dan Pasar Banyuwangi.

Serta di tiga gudang Bulog yaitu gudang Rogojampi, Genteng dan Srono. Sementara bazar keliling, digelar di lima titik secara bergantian. Yaitu Pasar Rogojampi, Sempu, Gendoh, Singojuruh dan Genteng.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi, Ketut Kencana menambahkan GSP akan diperpanjang hingga 31 Juli 2017.

"Sedianya, dijadwalkan berakhir pada 30 Juni 2017. Namun, melihat animo masyarakat yang begitu besar kita ulur hingga akhir Juli," jelas Ketut.

Menurut Ketut, perpanjangan pelaksanaan GSP ini untuk memberikan kesempatan pada masyarakat mendapatkan bahan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau dan mudah.

“Selain juga, mewaspadai terjadinya lonjakan harga sembako pasca lebaran. Ini juga upaya antisipatif pemkab untuk mencegah inflasi,” terang dia.

Dalam pelaksanannya, GSP juga melibatkan 221 Rumah Pangan Kita (RPK) yang dikelola Bumdes. RPK sendiri merupakan sebuah warung atau semacam gerai yang menyediakan produk pangan langsung dari Bulog. (haorrahman)

Editor: Ady Sucipto
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved