TribunBali/

Mahmud, Pembunuh Pria Bertato Jantung Hati Lepas dari Hukuman Mati

Namun pria kelahiran 21 Mei 1972 dituntut pidana penjara selama 10 tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewa Arya Lanang Raharja dalam sidang, di Peng

Mahmud, Pembunuh Pria Bertato Jantung Hati Lepas dari Hukuman Mati
Tribun Bali
Terdakwa Mahfud Hudori usai menjalani sidang tuntutan, Selasa (13/6) di PN Denpasar. Atas perbuatannya membunuh Imran, Mahfud dituntut 10 tahun penjara. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mahfud Hudori (44) terbebas dari dakwaan hukuman mati dalam kasus pembunuhan Imran Ardani (korban).

Namun pria kelahiran 21 Mei 1972 dituntut pidana penjara selama 10 tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewa Arya Lanang Raharja dalam sidang, di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (13/6/2017).

Atas tuntutan yang diajukan JPU itu, terdakwa melalui penasihat hukumnya akan mengajukan pembelaan atas tuntutan JPU (pledoi) pada sidang pekan depan.

Di hadapan majelis hakim pimpinan I Wayan Kawisada, Jaksa Dewa Lanang dalam surat tuntutannya menyatakan, terdakwa Mahfud tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan perencanaan terlebih dahulu. "Untuk itu terdakwa Mahfud Hudori harus dibebaskan dari dakwaan primair," jelasnya.

Namun Jaksa Dewa Lanang menyatakan, terdakwa terbukti sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan. Atas perbuatannya, Mahfud dijerat Pasal 338 KUHP.

"Menuntut supaya majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menghukum terdakwa Mahfud Hudori dengan pidana penjara selama 10 tahun, dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara," tegas Jaksa Dewa Lanang.

Dibeberkan dalam dakwaan JPU terkait perbuatannya terdakwa, bahwa kasus pembunuhan yang terjadi pada 25 Februari 2017 itu berawal dari terdakwa bersama saksi Amir Purbo Wilantara, Moh Latiful Rohim, Eri Setiawan, Budi Raharjo dan koban Imran Hamdani duduk bersama sambil minum.

Sekitar pukul 01.30 Wita, korban mengajak terdakwa untuk membeli makan.

"Awalnya terdakwa menolak, tapi karena teman-teman yang lain mengatakan lapar, akhirnya terdakwa pergi bersama korban dengan mengendarai sepeda  motor milik korban," kata jaksa Dewa Lanang, kala itu.

Selanjutnya perjalanan terdakwa membonceng korban. Ketika itulah tangan korban terus menggerayangi tubuh terdakwa.

Tidak hanya menggerayangi, korban juga beberapa kali menciumi terdakwa. Mendapat perlakuan seperti itu, terdakwa sempat menghindar sehingga motor yang dikendarai menjadi oleng.

Pun korban sempat mengajak terdakwa untuk kencan, namun ajakan itu ditolak oleh terdakwa. Usai membeli nasi, keduanya kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Dalam perjalanan itu, korban terus mengajak terdakwa ke penginapan. Entah karena apa, tiba-tiba terdakwa mengarahkan sepeda motor ke rumah saksi Angga Freandy.

Di rumah ini terdakwa mengambil pisau dapur yang digunakan terdakwa untuk membunuh Imran. (*)

Penulis: Putu Candra
Editor: imam rosidin
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help