TribunBali/

Banyak yang Tak Sabar Berobat, Penderita TBC di Denpasar Meningkat 49 Orang Setahun

Jumlah warga yang suspek TBC (tuberkoluse) di Denpasar meningkat. Peningkatan ini disebabkan masih banyak warga yang tidak sabar atau tidak konsisten

Banyak yang Tak Sabar Berobat, Penderita TBC di Denpasar Meningkat 49 Orang Setahun
Istimewa
Ilustrasi TBC 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jumlah warga yang suspek TBC (tuberkoluse) di Denpasar meningkat. Peningkatan ini disebabkan masih banyak warga yang tidak sabar atau tidak konsisten dalam berobat.

Mereka enggan berobat rutin lantaran mengira sudah merasa sembuh.

Berdasarkan data yang diperoleh di Dinas Kesehatan Kota Denpasar, tahun 2015, jumlah suspek TBC di Denpasar sebanyak 451 orang, sedangkan 2016 sebanyak 500 orang.

"Peningkatan penemuan kasus TBC karena kesadaran masyarkat terhadap bahaya TBC telah meningkat. Sehingga dengan semakin cepat ditemukan kasus semakin mudah untuk mencegah penularannya," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, Luh Putu Sri Armini usai menyerahkan bantuan paket gizi kepada 100 penderita TB di Kantor Perkumpulan Pemberantasan Tuberkolosis Indonesia (PPTI) Cabang Kota Denpasar, Kamis lalu.

Dari 500 penderita TBC, diketahui jumlah penderita baru berkisar di atas 70 persen.

Untuk itu, Sri Armini mengaku akan terus meminta pada petugas PPTI dan petugas puskesmas untuk terus melakukan penyuluhan ke masyarakat untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya TBC.

Sosialisasi yang dilakukan juga untuk menghilangkan kesan bahwa penyakit TBC merupakan penyakit keturunan. "Penyakit TBC bukan penyakit keturunan, melainkan penyakit menular yang bisa disembuhkan," jelas Sri Armini.

Kata dia, Kebanyakan dari penderita TBC belum disiplin dalam berobat. Baru berobat sekali dua kali, sudah merasa diri sembuh total sehingga bisa berpotensi kambuh kembali.

Untuk itu Ia berharap pada semua penderita TBC untuk mentaati aturan berobat sehingga bisa sembuh secara tuntas.

Keberhasilan penderita TBC untuk sembuh dari penyakit karena proses minum obat cukup panjang minimal enam bulan diperlukan pendamping untuk terus memotivasi agar mau minum obat secara teratur.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: imam rosidin
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help