TribunBali/
Home »

Bali

Industri Kacang Cemari Sungai Desa Timuhun, Air Berubah Keruh dan Berbau Tak Sedap

Limbah industri kacang air sungai di Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali berubah keruh dan berbau tak sedap.

Industri Kacang Cemari Sungai Desa Timuhun, Air Berubah Keruh dan Berbau Tak Sedap
Tribun Bali
Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta mengecek sungai yang tercemar limbah kacang di Desa Nyanglan, Banjarangkan, Klungkung, Senin (19/6)Pencemaran Sudah berlangsung Bertahun-tahun dan belum tertangani. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Limbah industri kacang air sungai di Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali berubah keruh dan berbau tak sedap.

Ini membuat warga tidak dapat memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka khawatir mengalami gangguan kesehatan.

Limbah mencemari sungai Desa Timuhun sudah terjadi sejak lama. Namun permasalahannya hingga saat ini tak kunjung tuntas.

Selain itu, tercemarnya sungai ternayata juga berpengaruh terhadap lahan pertanian warga. Tanaman petani mereka tak tumbuh normal bahkan mati bila dialiri air sungai yang telah tercemar tersebut.

 “Pernah ada ternak warga yang sakit dan mati setelah meminum air sungai yang telah tercemar tersebut. Saya berharap pemerintah bisa menuntaskan masalah ini karena limbah tidak berasal dari desa kami tapi dari hulu,” kata Bendesa Adat Desa Pakraman Timuhun, I Wayan Membah, Senin (19/6).

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta kemarin datang ke lokasi setelah melaksanakan program bedah desa di Desa Timuhun, Banjarangkan.

Ia datang untuk mencari jalan keluar terkait permasalahan limbah yang telah bertahun-tahun mencemari sungai di wilayah Timuhun, termasuk juga Desa Nyanglan.

Setibanya di Desa Nyanglan, Suwirta sempat mengecek beberapa industri kacang. Ia juga melihat beberapa sungai di Desa Nyanglan yang kondisinya sama dengan sungai di Timuhun yang telah tercemar limbah industri kacang.

Minimnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) membuat sekitar 10 industri kacang di Desa Nyanglan membuang limbahnya ke sungai.

 “Saya hitung disini ada sekitar 10 usaha kacang dan lebih industri itu menghidupi lebih dari 100 tenaga kerja lokal. Itu artinya industri kecang ini punya peran penting dalam memajukan ekonomi di Klungkung. Tapi saya tidak mau UMKM berkembang, tapi tidak berdampak baik dengan lingkungan,” ujar Suwirta. 

 Buat Kajian IPAL

 Suwirta pun meminta Bappeda untuk menyipakan kajian Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengolah limbah industri kacang di Desa Nyanglan.

Dari kondisi di lapangan, setidaknya ada lebih dari satu IPAL di lokasi tersebut. Suwirta ingin masalah ini segera diselesaikan.

“Kalau dibiarkan, kualitas air dan kesehatan masyarakat justru akan terganggu. Mudah-mudahan semua pihak dapat duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini. Saya ingin agar usaha masyarakat maksimal, tapi dampaknya terhadap lingkungan bisa ditekan seminimal mungkin,” tutur bupati. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: imam rosidin
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help