TribunBali/

Sindir Pemimpin Korup Lewat Nyanyian Genjek

Pertunjukan genjek kolaborasi joged bumbung, Sekaa Genjek Astiti Bakti, Desa Pinggan, Kintamani, Bangli, Bali sukses menghibur penonton

Sindir Pemimpin Korup Lewat Nyanyian Genjek
TRIBUN BALI/NYOMAN MAHAYASA
SALAMAN- Penampilan genjek kolaborasi joged bumbung, Sekaa Genjek Astiti Bakti, Desa Pinggan, Kintamani, Bangli di kalangan Angsoka Taman Budaya Art Center, Denpasar, Selasa (4/7). Seorang penonton terlihat menghampiri penari. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Pertunjukan genjek kolaborasi joged bumbung, Sekaa Genjek Astiti Bakti, Desa Pinggan, Kintamani, Bangli, Bali sukses menghibur penonton.

Ini bukan hanya karena ada jogednya, tetapi juga genjek yang dibawakan sangat menyentil untuk pejabat yang dianggap korup.

“Para pemimpin yang memimpin dunia. Satukan persepsi, ingat sama rakyat. Sekarang zaman yang dinamakan zaman kaliyuga. Semoga bisa menuntaskan korupsi,” ujar penyani genjek saat pementasan yang sontak mendapatkan aplaus dari penonton, dalam PKB ke XXXIX, tahun 2017, Selasa (4/7) di Art Center, Denpasar, Bali.

Satu diantara penyanyi genjek, Wayan Ratep (40) mengatakan lagu itu khusus diberikan kepada pemimpin dan penegak hukum untuk menegakkan permasalahan hukum di Bali.

Ia juga menyinggung jika biasanya tarian genjek dibawakan saat orang minum-minuman keras, maka dalam pementasan ini minuman kerasnya dihilangkan agar tidak membawa efek negatif terkai genjek.

“Lagu ini sebagai sindiran dan kritik kepada pemimpin di desa, kabupaten, provinsi, pusat agar tidak korupsi dan memberikan contoh yang baik kepada kami. Untuk minumnya kami sengaja tinggalkan karena efek itu berupa efek negatifnya. Biar dihapus sediki demi sedikit negatifnya. Makanya saat latihan minumya air putih saja biar tidak haus,” jelasnya.

Kelian Genjek, Sekaa Genjek Astiti Bakti, Desa Pinggan, Kintamani, Made Urip mengatakan, dalam pemantasan ini sekaanya membawa empat lagu yakni Kirang Langkung, Sang Hyang Widhi, Murdaning Jagad, dan Tresna.

Saat pementasan kemarin mereka membawa 30 penari, untuk penari genjek mereka manarikan 10 orang penari. Untuk saat ini para penari genjek sebagian besar sudah lanjut usia, karena itu mereka meregenerasi kepada generasi berikutnya.

“Biasanya masyarakat mesesangi jika gak punya anak laki-laki, nanti mereka akan mesesangi akan ngupah (menampilkan) genjek biar punya anak laki. Bahkan di Ban, Kubu, Karangasem ada bayinya ketika di USG anaknya perempuan, waktu mesesangi genjek terus keluarnya anaknya laki-laki. Ini sudah banyak terjadi. Nanti kita megenjek saat upacara 3 bulan anaknya,” jelasnya.

Dalam pementasan selama 1 jam, bukan hanya genjeknya yang diberikan perhatian, tetapi juga penari jogednya. Para pengibing (pendamping penari) berebut naik ke panggung.

Bahkan ada pengibing yang nyawer dan mengluarkan uang dari dalam dompetnya.

Awalnya dikeluarkan Rp 10 ribu penari tak menggubris, dikeluarkan Rp 20 ribu tetap tak menggubris, ketika dikeluarkan pecahan Rp 100 ribu baru penari mengejar si pengibing.

Sontak hal ini membuat penonton tertawa. Penari joged, Ni Luh Putu Gusri Antini (25) yang kuliah di jurusan PGSD, IHDN Denpasar ini berharap penari joged agar lebih dihormati.(*)

Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura
Editor: imam rosidin
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help