TribunBali/

Kolaborasi Street Art Bersama Jandamarra Cadd Australia dan Komunitas Djamur Bali

Jandamarra Cadd telah menggelar pameran tunggal keliling Australia bertajuk KINSHIP: A Culture of Connection (2014-2016)

Kolaborasi Street Art Bersama Jandamarra Cadd Australia dan Komunitas Djamur Bali
Istimewa

TRIBUN-BALI.COM- Seniman Indigineous-Aborigin terkemuka, Jandamarra Cadd, akan hadir di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar, dalam program workshop dan kolaborasi street art. Agenda yang digelar oleh Kedutaan Besar Australia di Indonesia dan Konsulat Jenderal Australia di Denpasar bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali (BBB) ini berlangsung Kamis (13/07) pukul 14.00 WITA.

Pada workshop mural yang terbuka untuk publik umum tersebut, Jandamarra Cadd akan berkolaborasi dengan seniman street art Bali yang tergabung dalam Komunitas Djamur.  Adapun tajuk yang dipilih yakni semacam seruan kesadaran akan lingkungan dan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism).

Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson mengatakan, kolaborasi ini mengikuti sejarah panjang kolaborasi antara warga Australia dan Indonesia. “Hubungan kedua negara dibangun atas koneksi pribadi yang mendalam dan kukuh antar warganya. Bahkan sejak dari tahun 1700-an, para nelayan di Sulawesi Selatan melakukan perjalanan ke bagian utara Australia untuk berdagang, membentuk hubungan-hubungan dan masyarakat baru.” 

Jandamarra Cadd yang merupakan keturunan Yorta Yorta dan Dja Dja Wurung Victoria, lahir tahun 1973 di Brisbane, Australia. Ia mulai melukis sejak usia 15 tahun, dikenal sebagai seniman yang mengeksplorasi berbagai kemungkinan gaya dan media, perpaduan unik antara teknik seni tradisional Aborigin dan seri potret kontemporer, buah penemuan yang mempribadi.

Pada workshop dan kolaborasi kali ini, Jandamarra Cadd dan Komunitas Djamur akan membagi pengalaman perihal estetik dan stilistik ragam street art masing-masing. Mereka juga akan mengeksplorasi lebih dalam mengenai ikonik-ikonik yang berangkat dari ragam visual atau wujud rupa hewan-hewan tertentu yang bersifat simbolis dan mistis, baik yang bersumber pada kultur indigenous Aborigin maupun Bali.

Program workshop dan kolaborasi ini menandai National Aborigines and Islanders Day Observance Committee (NAIDOC) Week, sebuah perayaan sejarah, budaya dan prestasi warga Aborijin dan Torres Strait Islanders, serta bulan Keberagaman dari kampanye gaya hidup Kedutaan Besar Australia, #AussieBanget, yang menyoroti keberagaman budaya Australia.

Dalam banyak lukisannya, Jandamarra Cadd mengekspresikan batin manusia yang mendambakan kedamaian, cerminan pengharapan kaum tertindas atau minoritas. Meski demikian, karya-karyanya penuh dengan warna-warni yang memikat, menuturkan nilai-nilai universal yang mempertautkan manusia lintas bangsa.

Sebagai ekspresi seni di ruang publik, atau dikenal sebagai street art telah menjadi sebuah fenomena yang tak terpisahkan dari dinamika sosial kultural masyarakat. Di mana seni visual, dalam beragam gaya dan wujud, ditorehkan ditembok-tembok terpilih di pinggir jalan atau dihablurkan spontan di sudut tertentu sebuah bangunan, belakangan kian marak di Bali, terlebih di kawasan Denpasar dan daerah wisata kosmopolitan Kuta-Legian.

Jandamarra Cadd telah menggelar pameran tunggal keliling Australia bertajuk KINSHIP: A Culture of Connection (2014-2016); PAST.PRESENT.FUTURE (2012-2013); dan turut dalam berbagai pameran bersama di sejumlah galeri seni di Australia seperti National Gallery of Australia; Art Gallery New South Wales; Gosford Regional Gallery; Maitland Regional Art Gallery; Lismore Regional Gallery; Coffs Harbour Regional Gallery; Broken Hill Regional Art Gallery; Griffith Regional Art Gallery, dan lain-lain.

Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya, antara lain: Finalist in The Kennedy Prize 2016; Finalist in The Clayton Utz Art Award 2016; Winner of People’s Choice – Sunshine Coast Art Prize 2016; Finalist in The Sunshine Coast Art Prize 2016; Finalist in The Percival Portrait Painting Prize 2016; Finalist in The Black Swan Art Prize 2015; Winner of SJOGHC Online People’s Choice Prize 2015; Finalist in The Archibald Prize 2014; Finalist for Indigenous Artist of the Year – The Deadly Awards 2013; Finalist for Indigenous Artist of the Year – The Deadly Awards 2011; People’s Choice Award 2010 – Que Sera Sera Exhibition (Toowoomba); People’s Choice Award 2008 – Wondai Art Gallery Through Our Eyes – Collaborative exhibition; Indigenous Employees Award 2007 – National Art Award (Canberra) Drawn Together; Highly Recommended 2007 – Arts Spectacular Competition; The People’s Choice Award 2005 – Faces of Arranounbi, Redcliffe Cultural Centre.

Sementara, Komunitas Djamur didirikan pada 27 Desember 2007, acuan semangat yang mereka junjung yakni kritis, menolak kemapanan, dan berekspresi secara bebas dalam kebersamaan. Komunitas ini bersifat terbuka dan egaliter sebagaimana jamur yang mudah tumbuh menyebar di manapun. Dalam sikap kritis itulah komunitas ini mempersepsikan anggotanya sebagai “produk gagal kesenimanan”, sebentuk ironi atau parodi untuk seniman-seniman sohor mapan yang berkarya di studio-studio pribadi serta berpameran di ruang-ruang representatif yang terpandang dan bergengsi. Menariknya, anggota Komunitas Djamur justru mengedepankan eksistensinya dengan menolak untuk dikenal publik sebagai sosok individu atau pribadi. Mereka menegaskan keberadaannya sebagai Sang Anonim.

Editor: Aloisius H Manggol
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help