TribunBali/

Citizen Journalism

Kecak Luh, Warna Baru Srikandi Ubud   

Cak.. cak.. cak.. suara lantang riuh terdengar dari jaba (halaman depan) Pura Batukaru, lingkungan Banjar Tengah Ubud, Gianyar, Bali

Kecak Luh, Warna Baru Srikandi Ubud   
Istimewa

TRIBUN-BALI.COM- Cak.. cak.. cak.. suara lantang riuh terdengar dari jaba (halaman depan) Pura Batukaru, lingkungan Banjar Tengah Ubud, Gianyar, Bali. Rambut para penari panjang terurai, bunga Jepun terselip pada telinga mereka. Duduk mengelilingi api, kedua tangan penari terangkat ke atas dengan telapak tangan terbuka.

Tarian Kecak memang identik dengan laki-laki. Hanya saja kali ini berbeda. Kesemua penarinya adalah perempuan, sehingga masyarakat menyebutnya Tari Kecak Luh. Luh merupakan panggilan untuk anak perempuan di Bali.  Tari Kecak Luh, sebuah transformasi seni tari Kecak yang dilakonkan oleh Sekaa Kecak Srikandi, Banjar Tengah Ubud, Gianyar.

Tari Kecak Luh ini buah eksplorasi para Ibu PKK, di bawah pimpinan I Gusti Lanang Oka Ardika, S.ST. M.Si. Pertemuan mereka di tahun 2010 telah membuka kemungkinan perluasan kreativitas kecak dalam wujud seni yang lebih atraktif. Tidak hanya unik, pakaian penarinya pun disesuaikan, tentu semangat para penari perempuan itu tak kalah dari para penari Kecak laki-laki yang kerap ditonton publik selama ini.

Lalu apa yang dapat dibaca dari fenomena sosial-kultural ini? Apakah kemunculan Tari Kecak Luh semata usaha kreasi seni sang penari, ataukah ada pemajuan dalam gender dan kesetaraan kreativitas?

Saat ditemui sebelum pentas, Selasa (11/7), pelatih Kecak Luh ini berulang menekankan sangat mengapresiasi minat ibu-ibu PKK untuk menari Kecak. “Awalnya memang ada kesulitan untuk mencari berbagai macam suara “cak”nya. Ada cak telu nyangsih, cak telu nyangkelod, cak lima, cak nem. Itu semua bergabung jadi satu kesatuan. Kalau dari suaranya, bisa dibilang tidak sekeras suara laki-laki. Namun ibu-ibu di sini bersemangat sekali menari Kecak Luh,” ungkap dosen Jurusan Tari, ISI Denpasar ini.

Menariknya, tak hanya ibu-ibu paruh baya yang menari, penari berusia 60an pun masih turut ambil bagian. Tari Kecak Luh ini pula menjadikan ciri khas baru dalam tari Kecak, terkhusus di desa Ubud. Sebagaimana Tari Kecak pada umumnya, cerita yang dibawakan Kecak Luh tetap bersetia dengan kisahan Ramayana.

Selain peran laki-laki yang ditarikan oleh perempuan, terjadi pula hal sebaliknya. Peran perempuan pun turut serta diperankan oleh laki-laki, sebagaimana lakon yang dikisahkan I Komang Muliadi Jusnaedi, S. Pd alias Gek Rempong.  

Dalam pertunjukan tari Arja, masyarakat Bali mengenal Putri Buduh (putri yang gila). Sang Putri yang menjadi Liku, parasnya ayu, dan berperilaku lucu. Umumnya Liku diperankan perempuan. Namun belakangan Liku dibawakan laki-laki.

Gek Rempong bergabung dengan Sanggar Canging Mas.  Ia telah menjadi liku selama satu setengah tahun. Memerankan sosok perempuan yang centil, membuatnya kerap menerima cemoohan dari masyarakat.  

“Banyak yang bilang bencong. Awalnya saya belum siap mental menerima itu. Tapi sekarang saya jalani saja, toh ini pekerjaan halal,” ungkapnya saat sebelum pentas di Lapangan Alit Suputra, Tabanan.

Halaman
123
Editor: Aloisius H Manggol
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help