TribunBali/
Home »

Bali

Kertas Bekas Disulap Jadi Bernilai Rp 300 Ribu di Peguyangan

Satu persatu kertas digulung hingga menjadi layaknya pipet. Setelah itu digabungkan lalu dipipihkan dengan besi berdiameter 5 cm.

Kertas Bekas Disulap Jadi Bernilai Rp 300 Ribu di Peguyangan
TRIBUN BALI/AA GDE PUTU WAHYURA
DAUR ULANG- Pelatihan daur ulang sampah dari Bank Sampah Abukasa kepada Karang Taruna Suta Mandala di Kantor Kelurahan Peguyangan, Denpasar, Minggu (16/7) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Satu persatu kertas digulung hingga menjadi layaknya pipet. Setelah itu digabungkan lalu dipipihkan dengan besi berdiameter 5 cm untuk digulung dan dijadikan layaknya obat nyamuk berbentuk lingkaran.

Dari kertas bekas itulah yang setelah dirajut akan bernilai hingga Rp 300 ribu harganya.

Begitulah bahan dasar dari kertas bekas yang dibuat menjadi barang berharga, satu diantaranya bokor (sejenis wadah layaknya tempat makanan khas Bali).

Dalam pelatihan daur ulang sampah yang dilaksanakan Bank Sampah Abukasa Peguyangan ini diikuti para Karang Taruna dan Sekaa Teruna di Kelurahan Peguyangan.

“Ternyata gampang kalau sudah dipraktikkan. Saya enggak nyangka dari kertas bekas bisa menjadi bokor,” ujar peserta pelatihan Anityadewi (17) dari Karang Taruna Suta Mandala, di Kantor Kelurahan Peguyangan, Denpasar, Minggu (16/7/2017).

Nyoman Astawa, Koordinator Bank Sampah Abukasa mengatakan pelatihan daur ulang bertujuan agar generasi muda bisa berpikir maju dan bisa mengelola sampah secara berkesinamnungan.

Bank sampah dikatakannya bisa memberikan hasil walaupun tidak sebesar menjual aset tanah.

“Bokor ini hanya perlu 30 lembar kertas ukuran A4 bekas dan harganya dijual bisa Rp 300 ribu. Kenapa mahal, karena ini hasil recycle. Selain itu kalau jatuh enggak pecah dan ini anti air, menang daripada berbahan kaca,” ujarnya.

Daur ulang bank sampah darinya sampai dilombakan ditingkat Kota Denpasar sehingga menjadi satu diantara percontohan di Denpasar.

Hingga ia berhasil mempekerjakan orang-orang di sekitarnya walaupun dirinya hanya tamatan Sekolah Dasar (SD). Dari recycle bahkan ia bisa mempekerjakan lulusan sarjana walaupun ia hanya tamatan SD.

“Saya membuat ini (daur ulang kertas) dua hari meditasi bagaimana menyiasati kulit bambu diganti dengan kertas untuk dijadikan anyaman. Memang prosesnya susah, saat saya membuat awalnya sudah berdiri jatuh lagi bokornya dan terurai kertasnya, itulah proses tapi kita harus terus melangkah,” ujarnya dibarengi tepuk tangan pemuda-pemudi yang hadir.

Lurah Peguyangan, AA Gede Agung Dharma Putra mengatakan kelompok pendaur ulang sampah Abukasa dikenal dengan nama Kupu-Kupu Sampah (Kelompok Usaha Pendaur Ulang Sampah).

Dengan bekerjasama dengan CSR dari perusahan Pertamina Depo Sanggaran maka kelompok masyarakat bisa dibantukan dengan modal dan bantuan promosi.

“Lihatlah kertas ini ketika kita biasanya diremas dibuang enggak ada artinya. Kalau dibuat bokor itu bisa mendapatkan Rp 300 ribu,” ujarnya. Selain bokor hasil dari daur ulang ini juga ada seperti guci, motor-motoran, kura-kuraan, hingga piring ceper. (*)




Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura
Editor: imam rosidin
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help