TribunBali/
Home »

Bali

Dharma Wacana

Kritik Budaya Menjadi Jualan Politik

Politik merupakan cara untuk meraih kekuasaan. Dalam ajaran agama Hindu, hal ini terdapat dalam kitab Artha Sastra, Raja Dharma, Raja Niti

Kritik Budaya Menjadi Jualan Politik
TRIBUN BALI
IDA PANDITA MPU JAYA ACHARYA NANDA

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Bali pada 2018, belakangan ini mulai bermunculan politikus-politikus yang menjadi budayawan dadakan.

Mereka dengan lantang menyatakan keprihatinannya atas tergerusnya tradisi dan budaya Bali.

Padahal, sebelumnya mereka tampak acuh tak acuh terhadap isu ini.

Memang tidak semua politikus seperti itu. Banyak juga politikus yang memang menaruh perhatian atas tradisi dan budaya di Bali.
Namun, politikus yang menjadi budayawan dadakan dan menjual kebudayaan untuk mendapatkan simpati public itu, tak lain karena mereka tidak memahami arti kebudayaan.

Politik merupakan cara untuk meraih kekuasaan. Dalam ajaran agama Hindu, hal ini terdapat dalam kitab Artha Sastra, Raja Dharma, Raja Niti, Dhanda Niti dan Niti Sastra.

Dalam membahas politik dan kebudayaan, ada dua hal yang harus dipahami, yaitu politik dan budaya.

Konsep tersebut melahirkan dua sub, yakni politik kebudayaan dan budaya politik.
Politik tak lain merupakan strategi untuk meraih kekuasaan.

Tapi yang jelas, kekuasaan di sini bukanlah untuk kepentingan sektoral atau kelompok.

Tapi secara ideal, politik itu bertujuan untuk membangun kesejahteraan lahir dan batin semua orang.

Politik harus menegakkan supremasi hukum sebagai proses awal melahirkan stabilitas di wilayah undang-undang (UU), dan menjadi pengawasan UU. Terakhir, politikus harus mampu memberikan inovasi dan motivasi.
Tapi selama ini, situasi politik kita cenderung mengalami bias dan hanya mementingkan kelompok.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help