TribunBali/

Pilu, Taruna STIP Meninggal Usai ‘Dikerjai’ Senior, Kembarannya Kini Tidur Di Kamar Mendiang Adik

Amarulloh pun mengakui bahwa saat beberapa waktu tidur di kamar itu, ada keresahan yang selalu mengganggu pikirannya.

Pilu, Taruna STIP Meninggal Usai ‘Dikerjai’ Senior, Kembarannya Kini Tidur Di Kamar Mendiang Adik
(Kompas.com/Robertus Belarminus)
Kamar tempat penganiayaan taruna bernama Amirulloh di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Foto diambil pada Rabu (11/1/2017). 

"Sisko berencana mengerjai junior di tingkat satu yang merupakan basis alat drum atau tam-tamnya. Kemudian sekitar pukul 22.00 WIB, sebanyak enam taruna tingkat I tersebut dipanggil oleh para pelaku agar segera berkumpul di lokasi kejadian," ungkap Kanit Reskrim Polsek Cilincing AKP Andre Soeharto.

Andre memaparkan, para taruna di tingkat II selain Sisko, juga berada di lokasi kejadian, yakni Willy Hasiholan (20), Inswanto (21) dan Akbar Ramadhan (20).

Keempat taruna tingkat II tersebut, lanjut Andre, langsung melakukan tindak kekerasan.

"Ada enam orang taruna tingkat I yang disuruh berkumpul oleh empat pelaku, yang merupakan seniornya di tingkat II tersebut," kata Andre.

Saat para enam taruna tingkat I itu sudah di lokasi kejadian, keempat pelaku ini malah langsung memukul seluruh tubuh para juniornya.

Tanpa perlawanan, junior-juniornya saat itu hanya bisa diam ketika para seniornya memukuli tubuhnya berkali-kali.

Andre mengatakan, aksi kekerasan yang dilakukan empat pelaku tersebut dilakukan secara berulang-ulang dan bergantian.

Tindak kekerasan dilakukan empat senior ke juniornya itu, kata Andre, hanya menggunakan tangan kosong, dengan target perut hingga ke ulu hati.

"Saat tindak kekerasan itu terjadi, terjatuh lah Amirulloh ini tepat di depan para seniornya di tingkat II itu. Amirulloh terjatuh membuat para seniornya panik, sementara lima junior lainnya masih terlihat kesakitan saat itu. Amirulloh terjatuh karena perut, dada, serta ulu hatinya mendapat pukulan berkali-kali yang dilakukan bergantian.Pukulan terakhir diketahui oleh salah satu pelaku yang bernama Willy," tutur Andre.

Melihat Amirulloh tak sadarkan diri, Willy mengatakan ke Amirulloh bahwa mereka sama-sama tinggal di Kecamatan Tanjung Priok.

Saat itu, tubuh korban ambruk di dada Willy dan tak sadarkan diri.

Pada pukulan terakhir, dilakukan oleh pelaku bernama Willy dan sambil berkata 'Sama-sama Anak Priok, kok'.

Tapi Amirulloh ketika itu tetap tak sadarkan diri.

"Selanjutnya, oleh para pelaku bersama saksi lainnya di lokasi, menggotong tubuh Amirulloh ke tempat tidur. Para pelaku pun panik, dan selanjutnya langsung menghubungi seniornya yang di tingkat IV," beber Andre.

Kapolsek Cilincing Kompol Ali Yuzron menambahkan, korban yang saat itu tak sadarkan diri, langsung dibawa oleh para pembina dan piket medis di STIP.

Sekitar pukul 01.45 WIB, maut sudah merenggut nyawa Amirulloh.

"Mengetahui kondisi korban ini tidak bernyawa, setelah diperiksa dokter piket STIP, kejadian itu selanjutnya dilaporkan ke Polsek Cilincing.Sampai saat ini, masih kami dalami motif empat pelaku ini tega melakukan kekerasan terhadap juniornya.Saat ini keempat pelaku pemukulan sudah ditahan. Kejadian ini, merupakan insiden yang ketiga kalinya, yang sebelumya terjadi pada tahun 2012 dan 2013," kata dia.

Sementara itu Kepala Polres Metro Jakarta Utara Komisaris Besar Polisi Awal Chairudin mengatakan, kegiatan menurunkan keterampilan alat musik menjadi 'tradisi' di STIP.

Sayangnya, bukan kepandaian yang diturunkan, tapi kekerasan yang didapat para korban.

"Seharusnya taruna junior itu dipanggil, dibuat pandai dia menggunakan alat tam-tam tadi, bukan dianiaya secara bergiliran," kata Awal. (*)

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help