TribunBali/

Zulmi Terus Dorong BPR Tingkatkan Modal Inti

Perkembangan teknologi yang kian pesat, memunculkan banyak inovasi, salah satunya adalah financial technology

Zulmi Terus Dorong BPR Tingkatkan Modal Inti
Istimewa
Kepala OJK Regional 8 Bali - Nusa Tenggara, Zulmi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Perkembangan teknologi yang kian pesat, memunculkan banyak inovasi, salah satunya adalah financial technology (fintech).

Untuk itu,  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara, mengimbau perbankan agar dapat mengikuti perkembangan tersebut.  Khusunya mendorong Bank Perkreditan Rakyat (BPR), agar lebih berinovasi ke depannya. Mengingat saat ini perkembangan fintech sangat pesat. 

“Untuk bank umum sejauh ini  mereka telah mengembangkan digital bangking untuk memudahkan layanannya.  Sementara untuk BPR, juga diberikan kesempatan serupa dalam menggunakan digital banking,” ujar Zulmi, Kepala OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara, Minggu (6/8).

Hanya saja, untuk BPR yang ingin   menggunakan digital banking harus memenuhi persyaratan tertentu.

Mulai dari tingkat  kesehatan, permodalannya,  jumlah  SDM termasuk   kompetensi  SDM,  dan teknologi yang  dikuasi termasuk persyaratan lainnya.

“Untuk di Bali hingga saat ini, saya rasa belum ada, namun BPR yang menggunakan ATM sudah ada. Dan ini merupakan  salah satu fasilitas untuk dapat memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi,” katanya.

Untuk itu, ia mewanti-wanti sejak awal agar  modal inti BPR dapat ditingatkan.  Pasalnya, dengan modal  yang sudah bagus, maka BPR tersebut dinilai bisa meningkatkan kompetensi SDMnya dan berimbas pada bisnisnya.

“Kalau ingin merebut pasar atau minimal mempertahankan pasar, ya harus ikut terjun menggunakan teknologi. Serta meningkatkan modal inti,” ujarnya.

Lanjutnya, bank-bank dengan modal inti yang masih kecil akan semakin tinggi kemungkinan terjadinya fraud (kecurangan), dan berpotensi memiliki NPL (Non Performing Loan/ kredit bermasalah) lebih tinggi.

“Hal ini bisa terjadi, karena SDM  dibayar dengan seadanya  atau tidak sesuai dengan kompetensi sehingga  di dalam penyaluran kredit  mereka kurang memperhatikan prinsip kehati-hatian,” jelas Zulmi.

Sehingga, kata dia, BPR harus tumbuh dengan berbagai cara. Salah satunya dengan  kemampuan dari dalam, karena  tidak perlu membayar bunga untuk meningkakan efesiensi. Namun apabila tumbuh dari luar, maka pengeluaran akan semakin bertambah  atau bisa membebani  disamping adanya persaingan dengan lembaga lainnya.

Perlu diketahui, modal inti BPR di Bali saat  ini dibagi menjadi tiga kelompok, pertama di bawah Rp 3 miliar, kemudian Rp 3 miliar-Rp 6 miliar dan  di atas Rp 6 miliar.

“Nah  berdasarkan analisis kantor OJK pusat  dengan kondisi  saat ini, BPR baru bisa berjalan normal apabila modal inti yang dimiliki minimal Rp 6 miliar. “Sehingga dengan demikian kami  mendorong BPR yang modal intinya di bawah Rp 6 miliar ini dapat segera  mencapai minimal Rp 6 miliar,” tegasnya. (*)

Tags
OJK
BPR
Bali
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help