TribunBali/
Home »

Bali

Mencicipi Meditasi Pemberdayaan Diri Anand Krishna

Puluhan orang berkesempatan mencicipi sebagian dari praktik meditasi Ananda's Neo Self Empowerment

Mencicipi Meditasi Pemberdayaan Diri Anand Krishna
Tribun Bali/I Dewa Made Satya Parama
Puluhan orang antusias mengikuti praktik meditasi pemberdayaan diri yang diberikan oleh Anand Krishna di Gramedia, Jalan Dewi Sartika, Denpasar, Sabtu (12/8). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Puluhan orang berkesempatan mencicipi sebagian dari praktik meditasi Ananda's Neo Self Empowerment yang dipimpin oleh humanis spiritual Anand Krishna, Sabtu (12/8) sore di Denpasar. Meditasi membebaskan diri dari ketergantungan.

Ruangan luas di Gramedia, Jalan Dewi Sartika, Denpasar, dijejali oleh orang-orang yang duduk lesehan dan antusias mendengarkan penjelasan Anand Krishna mengenai meditasi pemberdayaan diri. Tidak hanya memberi penjelasan dan menjawab pertanyaan, Anand Krishna juga langsung memberi contoh praktik meditasi Ananda's Neo Self Empowerment.

Menurut Anand, meditasi ini berlaku bagi siapa saja yang ingin melepaskan diri dari segala ketergantungan yang ada di luar diri dengan cara memberdayakan dalam diri. Ketergantungan yang dimaksud seperti ketergantungan terhadap obat-obatan, rokok dan lain-lain.

"Ketergantungan membuat kita menjadi lemah. Bagaimana membebaskan diri dari segala macam ketergantungan? Meditasi bisa membebaskan kita dari ketergantungan dan membuat kita sehat secara holistik, menyeluruh" tuturnya.

Meditasi dikatakannya bukan hanya dapat membuat sehat secara fisik saja bahkan bisa membuat sehat secara emosional dan mental, hingga membuat orang menjadi lebih kreatif dan produktif.

Dikatakan Anand, latihan meditasi ini berasal dari pengalaman pribadinya saat sembuh dari penyakit kanker darah atau leukimia. Pada tahun 1991 Anand Krishna didiagnosis mengalami leukimia. Kebetulan saat itu pengobatan belum secanggih sekarang, dan ia pun tidak merespon pengobatan seperti kemoterapi.

Krishna juga sampai bolak-balik ke luar negeri mencari alternatif pengobatan lain. Namun bukan semakin membaik, kondisinya malah menurun.

Hingga akhirnya, ia berkunjung di Himalaya dan bertemu seorang petapa.

"Saya bertemu dengan petapa yang membuat saya bisa melihat kehidupan secara utuh, membuat saya menyadari penyakit itu tidak perlu dilawan," ucapnya.

"Kita pahami kenapa kita berpenyakit. Ketika kita menemukan alasannya dan saya mengatasi alasan itu, saya menjadi sehat," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: I Dewa Made Satya Parama
Editor: ady sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help