TribunBali/
Home »

Bali

Digerogoti Tumor Ganas Stadium Tiga, Mulut Nenek Ini Alami Hal Mengerikan Hingga Tak Bisa Makan

Wanita yang akrab disapa Ina Po tersebut sudah dua tahun mengidap penyakit tumor pada bagian mulutnya.

Digerogoti Tumor Ganas Stadium Tiga, Mulut Nenek Ini Alami Hal Mengerikan Hingga Tak Bisa Makan
Istimewa
Penyakit tumor mulut yang diderita Poarba (68). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sungguh malang nasib yang dialami Poarba (68) perempuan berusia senja asal Desa O'o, Dompu, Bima, NTB.

Wanita yang akrab disapa Ina Po tersebut sudah dua tahun mengidap penyakit tumor pada bagian mulutnya.

Saat ini, Poarba sedang menjalankan pengobatan kemoterapi di RSUP Sanglah, Denpasar.

Informasi yang dihimpun dari Buhari (45) keluarga korban saat ditemui di ruang tunggu RS Sanglah, mengatakan, penyakit tumor mulut yang diderita Poarba merupakan tumor ganas stadium tiga.

Pada bagian mulut sebelah kiri hingga beberapa giginya sudah digerogoti tumor tersebut. Hal tersebut membuat Poarba mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan.

"Untuk makan sangat susah. Separuh mulu sebelah kirinya sudah habis digerogoti tumor tersebut. Kalau makan, dua tiga biji nasi harus didorong dengan tangan. Bahkan untuk bicara saja suaranya sudah tidak terdengar lagi. Lubang hidung sebelahnya juga sudah tertutup karena tumor itu sudah menyebar. Kata dokter penyakitnya ini diketahui ada virus, "ujar pria yang bekerja sebagai petani jagung di desanya, Selasa (28/7/2017).

Buhari pun bercerita, awalnya penyakit tersebut muncul dari tahi lalat pada mulut Poarba sebelah kiri. Tahi lalat yang sudah ada sejak lahir tersebut gatal.

Karena tak sanggup menahan gatal sehingga Poarba pun menggaruknya. Lama kelamaan mulutnya mengalami luka. Setelah diperiksa ke rumah sakit barulah didiagnosa kalau Poarba mengalami penyakit tumor mulut.

Dikatakan Buhari, Poarba bibinya tersebut sebelumnya dirawat di RSUD Bima kemudian dirujuk ke RSUD Lombok.

Akan tetapi, disebabkan peralatan medis yang tidak memadai dan tidak bisa ditangani sehingga Poarba pun kembali pulang ke desanya. Hingga akhirnya sebuah Yayasan membantu Poarba untuk dirujuk ke RSUP Sanglah, Denpasar. Untuk ke RS Sanglah saja dikatakan Buhari sempat mengalami kesulitan karena terkedala dengan biaya.

"Ada BPJS Kesehatan. Tapi untuk transportasi, makan dan kebutuhan lainnya kami sangat kesulitan. Beruntungnya ada Yayasan (We Save) yang mau membantu. Kami bisa sampai disini (RS Sanglah) karena kami dibantu oleh Yayasan itu. Awalnya mereka menyebarkan foto-fotonya dia (Poarba) ke daerah-daerah lain untuk mencari bantuan. Bantuan itu terkumpul sekitar Rp. 20 juta sehingga kami bisa sampai disini dan dioperasi, "ungkapnya. (*)

Penulis: Hisyam Mudin
Editor: ady sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help