TribunBali/
Home »

Bali

Soal Five Day School, Cok Tia Lega Turunnya Perpres Dianggap Lebih Adil untuk Sekolah di Bali

Tia lega, karena perpres ini lebih adil dan bisa diterima masyarakat.Sebelumnya perpres ini turun tiga hari lalu

Soal Five Day School, Cok Tia Lega Turunnya Perpres Dianggap Lebih Adil untuk Sekolah di Bali
Tribun Bali/I Made Argawa
(Ilustrasi)Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer di SMAN 1 Tabanan. Dua SMA di Tabanan yakni, SMAN 1 Tabanan dan SMAN 2 Tabanan mengalami gangguan saat pelaksanaan UNBK pertama tahun 2017 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepala Dinas Pendidikan Pemprov Bali, Tjokorda Istri Kusumawardhani atau akrab dipanggil Cok Tia mengatakan terbitnya peraturan presiden (perpres) No 87 tahun 2017 kemarin menganulir Permendikbud tentang kewajiban sekolah lima hari atau full day school (FDS).

Tia lega, karena perpres ini lebih adil dan bisa diterima masyarakat.

Sebelumnya perpres ini turun tiga hari lalu. “Perpres ini membuat sekolah bebas memilih, mau lima hari sekolah atau enam hari sekolah. Kami di Bali, tentu sangat menerima perpres ini,” ujar Cok Tia, (7/9).

Tia menjelaskan sekolah lima hari yang menempuh delapan jam sehari atau full day sudah banyak diterapkan di Denpasar khususnya di sekolah swasta‎ yang sudah mempunyai sarana penunjang.

“Hanya 1-2 sekolah saja rasanya di Denpasar (sudah FDS). Di luar Denpasar, kami belum mendata karena belum menjadi agenda secara nasional. Nanti kan aturannya dituangkan dalam Perpres dan ini tidak menjadi suatu agenda yang harus dilaksanakan karena kondisi sekolah berbeda-beda,” katanya.

Untuk sekolah enam hari atau enam jam dalam sehari banyak dipraktikkan sekolah negeri. Dengan terbitnya perpres No 87/2017 nantinya sekolah tidak terbebani, sebab sekolah lebih banyak memiliki opsi dalam menjalankan pendidikan. Dicontohkannya, seperti untuk sekolah di daerah jauh, seperti Bangli dan Karangsem akan tidak mungkin dipaksakan sekolah lima hari.

“Nanti mereka berangkat pagi, pulang sampai di rumah bisa malam. Kualitas sekolah di Bali kan tidak bisa disamaratakan. Sarana sekolah di kota dan daerah juga jauh berbeda,” jelasnya. Terkait dengan pendidikan karakter di perpres tersebut, dikatakannya bahwa dalam perpres ditekankan harus mengadopsi kearifan lokal.

Nantinya sekolah dituntut membentuk karakter anak sesuai lingkungan sekitar. Dicontohkannya untuk di Bali, kearifan lokal satu diantaranya menyangkut seni dan budaya. Selain belajar di kelas, guru diminta mengajak siswa langsung ke lapangan mengenal seni budaya lewat seniman.

“Agar siswa mampu mendapat gambaran nyata tentang hakikat menjadi seniman melalui karyanya. siswa diajak datang ke rumah seniman langsung. Di sana siswa bisa berinteraksi dengan seniman. Itulah pendidikan karakter yang dimaksud," jelas birokrat asal Gianyar ini.

Sebelumnya sejumlah sekolah di Bali mempertanyakan kewajiban FDS hingga sore hari, ini karena sarana dan prasarana seperti ruangan, kemudian tenaga pengajar sangat terbatas.

Halaman
12
Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura
Editor: ady sucipto
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help