TribunBali/

Berita Banyuwangi

Banyuwangi Punya Tradisi Bahari Unik, Istri Akbar Tandjung Terpukau Oleh Pesona Wisata Banyuwangi

Nina mengaku terkesan dengan tradisi bahari nelayan Banyuwangi sekaligus tradisi Suku Using di Desa Kemiren yang merupakan warga asli Banyuwangi.

Banyuwangi Punya Tradisi Bahari Unik, Istri Akbar Tandjung Terpukau Oleh Pesona Wisata Banyuwangi
surya
Krisnina Maharani Akbar Tandjung, bersama rombongan saat mengunjungi Banyuwangi 

TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI - Krisnina Maharani Akbar Tandjung, istri dari tokoh senior dan Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, Akbar Tandjung, bersama 50 temannya mengunjungi Banyuwangi.

Nina mengaku terkesan dengan tradisi bahari nelayan Banyuwangi sekaligus tradisi Suku Using di Desa Kemiren yang merupakan warga asli Banyuwangi.

Nina mengunjungi Banyuwangi bersama 50 orang Yayasan Warna Warni Indonesia yang dipimpinnya selama tiga hari, 9-12, September.

Salah satu lokasi yang dikunjunginya adalah Sanggar Genjah Arum di Desa Kemiren, Kecamatan Galgah Banyuwangi.

Di sanggar seni budaya itu, rombongan langsung disuguhkan seni khas Banyuwangi seperti Tari Gandrung dan musik lesung yang dimainkan nenek-nenek.

"Desa Kemiren itu eksotis, bagus banget. Saya pikir itulah kearifan lokal. Ini yang harus kita jaga di tengah arus besar budaya global, jadi kita tetap harus memiliki tradisi kita sendiri, ada kekhasan diri sendiri," ungkap Nina.

Tidak hanya itu, Nina juga melihat langsung proses pengolahan biji kopi khas warga Kemiren dan langsung bisa menikmati kelezatan kopi Banyuwangi.

"Di sana ada pengetahuan tentang kopi, belum lagi beragam tradisinya. Desa Kemiren itu bagi saya adalah cerita yg luar biasa," ujar Nina.

Nina menilai bahwa pembangunan kebudayaan di Banyuwangi sudah berjalan. Kekhasan masing-masing wilayahnya bisa terekspos dengan baik.

"Saya dukung Pak Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) yang terus berupaya menjaga dengan menampilkan tradisi daerahnya ke setiap wisatawan. Kekhasan kampungnya disini keluar semua. Dan yang bagus, masyarakat di Banyuwangi juga turut antusias. Banyak perubahan yang terjadi di sini," jelas Nina.

Untuk itu, Nina berniat membawa kisah bagaimana Banyuwangi menghidupkan tradisinya ke dalam forum budaya internasional di Bali. Rombongan ini dijadwalkan akan menghadiri diskusi The International Conference on Language, Literature, Culture, amd Education di Bali, 19 - 20 September 2017.

"Saya habis ini ikut forum budaya internasional di Bali, akan ada sesi diskusi dan sharing. Banyuwangi akan menjadi inspirasi saya juga," kata Nina.

Di Banyuwangi, Nina dan rombongan yayasannya pun sempat mengunjungi sejumlah destinasi wisata, di antaranya di Pantai Pulau Merah.

Yayasan Warna-warni Indonesia adalah lembaga nirlaba yang berfokus pada upaya peningkatan apresiaai terhadap pluralisme, tradisi, wisata, kebudayaan, dan sejarah bangsa Indonesia. (haorrahman)

Editor: ady sucipto
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help