TribunBali/

Monster untuk Lamalera, Sebuah Persembahan untuk Kesadaran Lingkungan dan Budaya

Prehistoric soul adalah sebuah konsep pertunjukkan yang merekonstruksi kehidupan prasejarah melalui multimedia untuk kebijaksanaan manusia

Monster untuk Lamalera, Sebuah Persembahan untuk Kesadaran Lingkungan dan Budaya
Tribun Bali/Ida Ayu Suryantini Putri
Suasana workshop mapping video di Bentara Budaya Bali, Sabtu (16/9/2017) 

Laporan wartawan Tribun Bali, Ida Ayu Suryantini Putri

TRIBUN-BALI.COM,  GIANYAR - Sabtu, (16/9/2017) sekitar 100 pengunjung datang ke ruang pameran Bentara Budaya Bali, Jalan IB Mantra Nomor 88 A, Ketewel, Gianyar, Bali.

Hari ini digelar pameran seni yang bertajuk Leviathan Lamalera. Foto-foto yang dipajang di sini diambil dari Desa Lamalera A, Kecamatan Wulandoni, Kab. Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Sebelum di Bali, workshop, pemutaran film dan pertunjukkan teater sudah dilakukan di Lamalera, “Tapi di sana alatnya lebih sederhana,” ujar Jonas Sestakresna, penggagas Prehistoric Soul saat ditemui di sela-sela pameran.

“Prehistoric soul adalah sebuah konsep pertunjukkan yang merekonstruksi kehidupan prasejarah melalui multimedia untuk kebijaksanaan manusia dalam menyikapi alam,” tambah Jonas.

Di ruang pameran dipajang foto-foto keseharian masyarakat di sana, foto persiapan pementasan, kegiatan workshop, pemutaran film, dan pertunjukkan teater yang tepat dilaksanakan pada Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2017 lalu.Di sebelah foto kegiatan tersebut terdapat gambar hasil karya anak-anak saat workshop menggambar. Sebagian besar gambar tersebut adalah gambar ikan mamalia, seperti paus dan hiu.

Pada bidang di seberangnya, foto-foto perempuan yang disebut Tata dipajang. Tata adalah sebuatan untuk perempuan yang tidak menikah beserta foto kesehariannya. DP Arsa Putra, satu di antara fotografer juga memajang foto-foto pakaian yang sedang dijemur.

“Dari foto-foto itu saya ingin membangun opini dan dialog dengan audiens berupa interpretasi dengan narasi yang menyertainya. Lebih jauh, dengan melihat sebagian pakaian orang Lamalera akan bisa dilihat "selera" fashion mereka dihubungkan dengan kondisi dan lingkungan mereka.”

Pukul 13.00 Wita, pengunjung mulai banyak berdatangan dan melihat-lihat foto di ruang pameran. Selain pameran, hari itu diadakan pula talk artist yang diisi oleh Jonas, Arsa, dan Yudi Chandra. Saat diskusi, beberapa peserta bertanya tentang perjalanan mereka saat di Lamalera, kendala, antusias penduduk dan perihal penangkapan paus yang menjadi perhatian dunia.

“Ya, kalau searching sudah banyak yang bahas tentang itu. Jadi buat apa saya bahas di sini,” ungkap Jonas. Ia dan kedelapan temannya menggagas  Leviathan Lemalera ini sejak Mei 2016 lalu. “Dari Mei 2016, Jonas dan Bimo survey ke sana dan Juli 2017 ke sana.”

Leviathan diartikan sebagai monster atau hal mengerikan, “Ini dihubungkan dengan legenda sejarah bahwa mereka berbentuk makhluk yang sangat besar, belut besar atau naga,” terang Jonas. Ia menghubungkan Leviathan dengan modernitas sebagai monster. “Jadi saya anggap monster itu adalah kebudayaan lain, salah satunya teknologi.”

Di balik pro kontra mengenai penangkapan paus, Jonas dkk. Lebih tertarik mengangkat budaya penduduk dan mengenalkan teknologi agar dapat digunakan secara bijak, “Kita di sana juga ada workshop multimedia untuk anak-anak, walaupun kecil paling engga mereka tahu agar tidak hanya menjadi konsumen. Bagaimana memanfaatkan teknologi, walaupun daerah ini masih terpencil yang penting mereka udah belajar,” bebernya.

Selain pameran foto, diadakan pula workshop video mapping yang dihadiri oleh peserta dari Institut Seni Indonesia Denpasar, IKIP PGRI Bali, Sekolah Tinggi Design, Stikom, Universitas Udayana, SMK Negeri 1 Denpasar, SMK Rekayasa Denpasar dan pecinta seni di Bali.

“Sebelumnya kan belum pernah ikut kaya gini, jadinya tahu tentang video mapping walau dasar-dasarnya aja. Udah lumayan bisalah sekarang,” tutur Putu Age Yuana Kendra, ISI Denpasar jurusan Film dan Televisi saat ditanyai komentarnya di sela-sela workshop.

Pertunjukkan teater multimedia yang menggabungkan teks, gambar, animasi, video interaktif, dan skenografi akan dilaksanakan besok, (17/9/2017) pukul 19.00 Wita di Bentara Budaya Bali. (*)

Editor: ady sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help