TribunBali/
Home »

Bali

Essai Mingguan

Ruang Baca Bintang Lima

Pernahkah terbersit di benak maupun pikiran para pemegang kebijakan di Bali untuk benar-benar serius menggarap sebuah ruang baca/perpustakaan

Ruang Baca Bintang Lima
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
iLustrasi Perpustakaan Daerah Kabupaten Klungkung tampak lenggang pada Selasa (24/11/2015) 

Ruang Baca Bintang Lima

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tidaklah sulit menemukan hotel bintang lima maupun resort mewah di Bali. Namun alangkah langkanya perpustakaan ataupun ruang baca publik yang fasilitas maupun kualitas pengelolaannya sekelas ‘bintang lima’. Bukankah seharusnya hal ini tidak terjadi? Terlebih untuk Bali yang posisinya telah menginternasional.

Belakangan ini, memang kian bermunculan mall, kafe, hotel baru yang menawarkan sekian banyak kemudahan dan pelayanan yang melenakan. Rupa bangunan gedungnya tentu modern, fasilitas yang disediakan membuat pengunjung segera merasa nyaman, suasana yang pastinya membuat orang betah berlama-lama di sana.

Coba kita bandingkan dengan kondisi perpustakaan di Bali. Dapat diyakini sungguh berbanding terbalik. Tidak sedikit masyarakat yang kerap kecewa akan kualitas pelayanan yang masih jauh di bawah standar. Tatanan buku koleksi perpustakaan tidak beraturan, para pustakawan yang bertugas tidak hirau dengan tata letak buku, begitu pula fasilitas yang disediakan tidak dapat difungsikan. Jelas tampak semuanya dikelola asal-asalan. Celakanya, pengalaman seperti ini ditemui di perpustakaan yang terbilang paling besar dan paling lengkap di Bali.

Sesungguhnya sekian banyak kritik telah dilayangkan, baik secara langsung maupun lewat curhatan-curhatan di media sosial. Bahkan pernah pula seorang pelajar yang dengan sangat panjang mengurai kekecewaannya ketika berkunjung dan menerima pelayanan perpustakaan di Bali. Tidaklah sulit untuk menerka bagaimana kondisi perpustakaan lainnya di Bali, jika perpustakaan yang dianggap terbesar dan terlengkap saja dikelola dengan cara demikian.

Evaluasi Besar-besaran

Sebuah pertanyaan besar. Pernahkah terbersit di benak maupun pikiran para pemegang kebijakan di Bali untuk benar-benar serius menggarap sebuah ruang baca/perpustakaan sebagaimana garapan mall maupun tempat entertainment lainnya itu?

Coba bayangkan jika di tengah-tengah Kota Denpasar, barangkali di kawasan Renon ataupun Sudirman, pemerintah maupun pihak swasta tertentu, boleh jadi investor, membangun perpustakaan (ruang baca publik) dengan pelayanan yang sungguh profesional. Perpustakaan dalam hal ini, seyogyanya tidak hanya dipahami sebatas pada koleksi buku, namun lebih jauh lagi, yakni menjadi laboratorium kreatif masyarakat.

Fasilitas yang disediakan, selain koleksi buku yang lengkap, tidak tertutup kemungkinan juga tersedia film-film bermutu. Waktu kunjungan pun bisa hingga malam hari. Para pelajar tentu akan kesulitan mengakses jika waktu beroperasinya sama dengan waktu sekolah. Bukan tidak mungkin, jika ke depannya akan menjadi tempat paling pas untuk “nongkrong”.

Persoalan ini semestinya menjadi perhatian sangat serius dari Pemerintah Provinsi Bali. Pemerintah tidak bisa lagi hanya sibuk memikirkan upaya pengembangan sektor pariwisata beserta turunannya. Meski memang tidak dapat dipungkiri pariwisata adalah sandaran utama perekonomian masyarakat Bali. Namun jangan lupa pula, pembangunan dari dalam, teramat sangat penting untuk dilakukan. Jangan sampai perkembangan SDM Bali yang justru terbengkalai.

Halaman
123
Penulis: Ni Ketut Sudiani
Editor: ady sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help