TribunBali/

BPOM Telusuri Pil PCC di Denpasar, Ini Hasilnya

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Denpasar, Bali terus melakukan penelusuran terhadap kasus obat PCC

BPOM Telusuri Pil PCC di Denpasar, Ini Hasilnya
Facebook/ TMC Polda Metro Jaya
PCC atau flakka 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Denpasar, Bali terus melakukan penelusuran terhadap kasus obat PCC (Paracetamol Cafein Carisoprodol). 

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan POM di Denpasar, Endang Widowati kepada Tribun Bali saat dikonfirmasi, Senin (18/9/2017).

Dikatakan Endang, sebelum kejadian kasus pil PCC yang beredar di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara pada Rabu (13/9/2017), pihaknya sudah melakukan penelusuran ke puskesmas, klinik dan apotik-apotik yang ada di Provinsi Bali.

Hingga hari ini, sebanyak 36 sarana tercatat sudah dilakukan penelusuran.

Dari penelusuran yang dilakukan, Endang mengatakan sejauh ini pil PCC tidak ditemukan beredar di provinsi Bali.

"Sebelum kejadian, kami memang ada intensifikasi pengawasan obat-obatan yang sering disalahgunakan itu ke sarana distribusi seperti puskesmas, klinik dan terbanyak adalah apotik. Sejauh ini tidak ditemukan peredaran obat yg dimaksud, "ungkap Endang.

"Sebelum dan mulai kasus itu muncul, sampai hari ini kami juga turun untuk melakukan penelusuran. Tadi juga kami on air di RRI bersama dengan Ka BNNP. Memang di Bali sendiri belum beredar obat PCC tersebut dan mudah-mudahan tidak beredar, "lanjutnya melalui pesan WhatsApp.

Menurut Endang, obat yang bertuliskan Paracetamol Cafein Carisoprodol tersebut merupakan obat ilegal yang dibuat oleh oknum.

Dampak pil PCC sendiri dikatakan Endang akan berpengaruh pada mental hingga sampai pada perubahan prilaku.

"Dampaknya seperti yang diberitakan di media-media. Jika tidak termonitor akan berdampak pada perubahan prilaku. PCC itu sudah tidak boleh beredar. Sejauh ini kami terus menelusuri ke apotik-apotik. Karena itu lebih banyak disinyalir beredar di apotik. Sampai saat ini tidak ada indikasi seperti pasien-pasien yang ada di Kendari. Mudah-mudahan tidak beredar di Bali. Karena itu ilegal," tandasnya. (*)

Penulis: Hisyam Mudin
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help