TribunBali/

Polda Bali Bungkam Soal Police Line Akasaka, Dikabarkan Dua Kali Diberi Police Line

Pasca penggrebekan Diskotik Akasaka Juni 2017 lalu, hingga saat ini diskotik tersebut masih dipasangi police line

Polda Bali Bungkam Soal Police Line Akasaka, Dikabarkan Dua Kali Diberi Police Line
Tribun Bali / I Made Ardhiangga Ismayana
Diskotek Akasaka Kini Dijaga Aparat Bersenjata Lengkap Selama 24 Jam 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Pasca penggrebekan Diskotik Akasaka dengan barang bukti 19 ribu pil ekstasi Juni 2017 lalu, hingga saat ini diskotik tersebut masih dipasangi police line.

Bahkan, kepolisian masih menempatkan kendaraan taktis (rantis) dan anggota bersenjata lengkap.

Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Hengky Widjaja yang dikonfirmasi Tribun Bali, Kamis (21/9/2017) enggan memberikan penjelasan terkait informasi tersebut.

Hengky meminta pertanyakan pemasangan police line tersebut ke Bareskrim.

Karena kasus tersebut sejak awal ditangani oleh Bareskrim.

Padahal, sebelumnya Direktur IV Narkoba Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Eko Danianto telah menyampaikan bahwa  pihaknya  telah membuka police line Akasaka pada 8 Juli 2017 lalu, karena penyidikan terhadap Abdul Rahman alias Wily sudah selesai.

Kendati sudah dibuka tanggal 8 Juli 2017, diketahui tanggal 9 Juli Polda Bali kembali memasang gari polisi dan memajang mobil rantis di depan pintu gerbang Akasaka.

“Itu Polda Bali punya kewenangan. Mungkin, kasusnya sudah berulang-ulang, dengan penilaian itu maka Polda memasang kembali garis polisi,” kata Eko.

Menanggapi kondisi tersebut, Ahli Hukum Pidana, Dr. Simon Nahak, SH, MH mengatakan jika dilihat dari aspek hukum pidana maka dilihat apakah proses penyidikan dan penyelidikan sudah berjalan atau belum, atau masih dalam proses.

“Kalau sudah selesai ya clear dan garis polisi dibuka. Garis polisi itu dipasang untuk status perkara dan barang bukti,”kata Simon Nahak.

Menurutnya, setelah Wili, lalu ada kasus serupa lagi di tempat yang sama baru Polda Bali punya kewenangan memasang garis polisi lagi.

“Ini aneh, karena bertentangan dengan logika hukum khususnya asas hukum tempus delicti  (peristiwa sejak kapan terjadi). Setelah Wili kan tak ada kasus lagi,  jadi sudah clear. Polda Bali memasang garis polisi lagi karena alasan kasus yang sama sebelumnya, ini yang bertentangan dengan tempus delicti, karena waktunya sudah lewat, kenapa tidak dipasang garis polisi sebelum kasus Wili. Dan dasar hukum apa Polda Bali pasang kembali garis polisi,”tanya Simon Nahak

Tempus delicti merupakan waktu terjadinya suatu tindak pidana.

Tempus delicti menjadi penting karena  berhubungan dengan, apakah suatu perbuatan pada waktu itu telah dilarang dan di ancam dengan pidana.(*)

Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help