TribunBali/
Home »

Bali

Dilarang Makan, Memotong, Menjual Hewan Berkaki 4 Jelang Ida Ratu Hyang Sakti Pingit Medal

Larangan diberlakukan sejak Rabu (20/9/2017) kemarin, sampai Jumat (6/10/2017) mendatang.

Dilarang Makan, Memotong, Menjual Hewan Berkaki 4 Jelang Ida Ratu Hyang Sakti Pingit Medal
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Sebuah plang imbauan agar warga agar tidak memakan daging hewan berkaki empat dipasang prajuru Desa Adat Kubutambahan, Kamis (21/9/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ratu Ayu Astri Desiani

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Prajuru Desa Adat Kubutambahan mengeluarkan larangan bagi masyarakat di desa setempat untuk tidak mengkonsumsi daging yang berasal dari hewan berkaki empat.

Larangan ini berlangsung 15 hari bentuk brata menyambut  upacara Mapening.

Larangan diberlakukan sejak Rabu (20/9/2017) kemarin, sampai Jumat (6/10/2017) mendatang.

Penyarikan Desa Adat Kubutambahan, Jro Made Putu Kerta menjelaskan, larangan mengonsumsi daging hewan berkaki empat ini berhubungan dengan upacara Mapening atau Ngemedalan Ida Ratu Hyang Sakti Pingit yang berstana di Pura Bale Agung.

Upacara yang digelar secara turun temurun ini dilaksanakan selama lima tahun sekali.

Di mana puncak acaranya jatuh pada Purnama Kapat, Kamis (5/10/2017) mendatang.

Sebelum puncak acara, sesuai dengan dresta desa adat, pihaknya kemudian mengeluarkan larangan sebagai bentuk pebrataan dan Pengekeran ditujukan kepada seluruh warga yang bemukim di wilayah Desa Adat Kubutambahan. 

Larangan sekaligus pantangan itu berlaku selama 15 hari sejak dimulai prosesi upacara, yakni sejak 20 September hingga 6 Oktober mendatang.

"Bahkan warga juga tidak boleh memotong, menjual, apalagi membawa daging dari hewan berkaki empat ke dalam wilayah desa adat kami. Itu berlaku selama proses 15 hari kedepan selama proses Pebrataan, mulai tanggal 20 September sampai dengan 6 Oktober 2017," kata Jro Made Putu Kerta ditemui di Pura Bale Agung Kubutambahan, Kamis (21/9/2017).

Larangan berlaku untuk semua warga yang tinggal di wilayah Desa Adat Kubutambahan.

"Tidak ada pengecualian, larangan itu berlaku untuk seluruh lapisan masyarakat. Sebelumnya kami sudah sosialisasikan hal itu kepada seluruh warga," paparnya.

Selain larangan mengkonsumsi daging berasal dari hewan berkaki empat, warga juga tidak diperkenankan untuk menggelar upacara atiwa-Tiwa (Pitra Yadnya), pawiwahan, mapandes (Manusa Yadnya), ngeresigana, balik sumpah, mecaru, mangguh (Butha Yadnya), piodalan ring Merajan, Pura, Paibon (Dewa Yadnya).

"Hanya upacara tiga bulanan saja yang boleh dilaksanakan, selain itu semua rangkaian upacara dilarang. Sejauh ini memang kami belum menemukan adanya warga yang melanggar. Sanksinya pun tidak ada. Cukup kesadaran diri sendiri saja," tutupnya. (*)

Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help