TribunBali/

Citizen Journalism

Energi Baru Terbarukan dan Nilai Kehidupan

Panel suryanya juga terpasang di atap merajan, bale gede serta di beberapa bangunan lainnya.

Energi Baru Terbarukan dan Nilai Kehidupan
Istimewa
I Gusti Ngurah Agung Putradhyana menjelaskan tentang kinerja panel surya di hadapan komunitas lingkungan yang berkunjung ke rumahnya di Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan beberapa waktu lalu. 

Oleh : Luh De Dwi Jayanthi

TRIBUN-BALI.COM - Langit tampak cerah pagi itu, matahari bersinar terang dan rindangnya pepohonan mengiringi perjalanan melewati jalur yang berliku. Meskipun sempat tersesat, akhirnya saya beruntung bisa sampai di Desa Geluntung. Menemui sosok penggerak masyarakat yang berkecimpung di energi baru terbarukan, Sabtu (16/9/2017).

Begitu memasuki Banjar Geluntung Kaja, pandangan saya mengarah pada sebuah rumah dengan gapura bata merah. Ada juga label stasiun radio amatir di sana. Namun yang tak kalah menarik, terdapat deretan panel surya yang berjejer di halaman rumah I Gusti Ngurah Agung Putradhyana. Panel suryanya juga terpasang di atap merajan, bale gede serta di beberapa bangunan lainnya. Alat ini dapat memanen sinar matahari menjadi energi listrik dengan daya 740 watt peak. “Sebenarnya panelnya sudah berlebihan untuk kebutuhan harian saya. Jika ada aki yang bagus, tentu dapat menyimpan lebih banyak listrik untuk kebutuhan lainnya,” ujarnya.

Laki-laki berumur 49 tahun ini memang dikenal sebagai Agung Kayon karena  mendirikan Komunitas Kayon bersama teman-temannya pada tahun 1999. Komunitas ini mengajarkan anak-anak tentang lingkungan dan sosial. Dulu komunitas ini aktif di Kota Denpasar, namun setelah Bom Bali I, Agung memutuskan untuk kembali ke kampungnya di Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali.

Dalam perjalanannya di desa, Agung Kayon terus berkarya. Ia membuat karya seperti pemotong rumput, koper energi, traktor listrik dan charger handphone yang energinya berasal dari tenaga surya. Tidak ketinggalan, juga ada biogas di dapurnya. “Semua penerangan di rumah memakai energi listrik dari panel surya. Biogas juga ada, tapi karena saya jarang masak ya tetap pakai gas elpiji. Jadi, kalau mau seratus persen pakai energi baru terbarukan bisa saja,” tuturnya sambil tertawa di bale jineng.

Ketertarikan Agung Kayon membuat alat-alat ini didasari dengan ilmu elektronika yang ia timba dari pamannya. “Dulu saat SMP, saya sering melihat paman bekerja memperbaiki radio, semenjak itu saya tertarik dalam bidang ini,” ungkap Agung sambil menunjuk pemancar radio yang berada di dekat rumahnya. Kemampuannya ini dikolaborasikan dengan ilmu arsitektur yang ia pelajari saat kuliah dan ilmu ekologi saat mengikuti short course di Universitas Utrecht di Belanda.

Agung Kayon memiliki alasan kuat mengeksplorasi karya melalui solar panel tak lain karena Indonesia berada di garis khatulistiwa dengan sumber daya alam yang melimpah. Ia hanya ingin memanfaatkan sumber daya alam yang ada di permukaan bumi sebaik-baiknya, bukan menggali karbon yang tertanam jutaan tahun yang berdampak pada kerusakan lingkungan. “Saya kadang malas jawab jika ada yang bertanya mana lebih murah listrik PLN atau solar panel. Perbandingan ini tidak bisa dihitung secara ekonomi saja, melainkan harus mengerti nilai-nilai kehidupan di balik semua itu,” ujarnya sambil mengelus anjingnya yang tidur pulas di sebelahnya.

Nilai Kehidupan

Ketika berbicara tentang energi baru terbarukan, penerapannya itu tidak sesederhana membandingkan biaya yang dikeluarkan ketika memakai listrik dari solar panel dengan listrik PLN. Agung Kayon mengungkapkan ada tiga nilai kehidupan yang penting dalam memanfaatkan energi yaitu jangan egois, jangan rakus dan jangan apatis. “Coba kita refleksi ke diri sendiri, apakah benar kita butuh energi sebanyak itu? Indonesia hanya sebagai sasaran empuk pasar internasional, sehingga membuat kita konsumtif,” terang laki-laki kelahiran 49 tahun silam. Menurutnya, permasalahan energi di Indonesia ini sarat politik, itu membuat dirinya memilih untuk bergerak di desa dengan menanamkan nilai-nilai leluhur kepada generasi penerus.

Mulai tahun 2007, ia memperkenalkan energi baru terbarukan kepada anak-anak di Banjar Geluntung Kaja melalui cerita dan nonton film. Ia mengajak anak-anak berumur 9-13 tahun bermain di rumahnya, karena menurut teori Piaget, anak-anak sudah bisa berpikir mengenai timbal balik dari satu keadaan yang sifatnya abstrak. “Meski mereka terlihat tidak memperhatikan, tapi pengalaman ini diingat saat mereka besar,” tekannya. Sembilan tahun berlalu, anak-anak telah beranjak remaja. Agung mengajak mereka memasang solar panel di Balai Banjar Geluntung Kaja. Remaja yang sebagian besar masih duduk di bangku SMA itu belajar memasang panel surya. “Nah, panel surya yang mereka tonton di televisi sudah ada di desanya. Terpenting bagaimana mereka mau mengelolanya sesuai dengan nilai-nilai kehidupan,” jelasnya.

Halaman
123
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help