TribunBali/
Home »

Bali

Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Bali Stagnan, Pegiat Ingatkan Korban Bisa Menjadi Pelaku Kekerasan

Sebab, dewasa ini, banyak diketahui para pelaku kekerasan terutama kekerasan seksual dilakukan karena para pelaku pernah menjadi korban.

Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Bali Stagnan, Pegiat Ingatkan Korban Bisa Menjadi Pelaku Kekerasan
Tribun Bali/I Made Ardhiangga Ismaya
Seminar "Psikologi Forensik dalam criminal justice system pada kasus kekerasan anak: kebutuhan pendampingan dan penanganan korban/pelaku". Minggu (1/10). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perlindungan  terhadap perempuan dan anak menjadi fokus Pemerintahan Presiden RI Joko Widodo.

Atas hal ini, berbagai elemen terutama penggiat di bidang itu berupaya membuat satu formula untuk pendampingan terhadap para korban.

Sebab, dewasa ini, banyak diketahui para pelaku kekerasan terutama kekerasan seksual dilakukan karena para pelaku pernah menjadi korban.

Ketua Pelaksana Harian P2TP2A Provinsi Bali, dr. Lely Setyawati menyatakan, karena merasa disakiti dan lama-lama korban bukan lagi menjadi korban. Melainkan, mereka menikmati hal tersebut. Sehingga, pada akhirnya menjadi pelaku.

 
"Lama-lama menjadi korban, contohlah kekerasan seksual, akhirnya korban itu menikmati. Dan pada akhirnya, menjadi pelaku kejahatan seksual. Nah ini yang perlu untuk didampingi dan ditangani ketika menjadi korban tersebut," ucapnya Minggu (1/10/2017) dalam seminar "Psikologi Forensik dalam criminal justice system pada kasus kekerasan anak: kebutuhan pendampingan dan penanganan korban/pelaku".

Ia menjelaskan, dari data pihaknya memang sebagian besar kekerasan itu terjadi karena pelaku pernah menjadi korban.

Untuk itu, setidaknya tidak ada batas maksimal pendampingan di P2TP2A. Paling tidak, saat meneriman satu pasien entah korban atau pelaku, pihaknya memberikan enam kali konseling atau sesi pendampingan. 

"Dalam Enam sesi nanti dijalani dan evaluasi. Kalau memang tidak cukup, maka bisa kembali. Dan ditambah enam sesi lagi. Dalam satu sesi itu, seminggu bisa satu atau dua kali pertemuan. Dan memang pendamingan cukup .embantu mengurangi dampak," ungkapnya.

Jumlah kekerasan kasus terhadap anak sendiri, menurut dia, untuk P2TP2A Provinsi Bali cukup stagnan di tahun 2016 dan 2017. Setidaknya ada sekitar 60 hingga 70 kasus. Yang paling tinggi di tahun 2015, yakni sebesar 150 kasus.

"Pas waktu kasus Angeline itu paling besar tahun 2015 lalu. Ada 150an kasus," bebernya. (*).

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: ady sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help