TribunBali/

Bali United

Temui Pengungsi, Pasek Wijaya Menangis Teringat Kisah Ortunya Saat Letusan Gunung Agung Tahun 1963

Melihat kondisi pengungsi, Asisten Pelatih Bali United asal Karangasem, Made Pasek Wijaya terlihat tak mampu menahan haru.

Temui Pengungsi, Pasek Wijaya Menangis Teringat Kisah Ortunya Saat Letusan Gunung Agung Tahun 1963
Kolase
Pasek Wijaya 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA  - GOR Swecapura, Klungkung dipenuhi semeton asal Karangasem yang mengungsi akibat ancaman letusan Gunung Agung.

Para pengungsi terlihat beristirahat di lantai GOR. Sebagian ada yang menempati kursi di tribun GOR.

Pemandangan itu terlihat saat manajemen dan pemain Bali United tiba di GOR untuk menyerahkan bantuan, Senin (2/10) sore.

Melihat kondisi pengungsi, Asisten Pelatih Bali United asal Karangasem, Made Pasek Wijaya terlihat tak mampu menahan haru.          

Bahkan, mantan pemain nasional dan mantan asisten pelatih Arema FC ini, tak bisa menahan air matanya. Pasek Wijaya mengaku teringat cerita musibah letusan Gunung Api tahun 1963.

Saat itu kedua orangtuanya harus mengungsi hingga ke Lombok.

"Saya sangat haru sampai menangis. Dulu orangtua saya pindah ke Lombok karena letusan saat itu (1963) sangat dahsyat," kata Pasek Wijaya sembari mengusap air mata.

Pria kelahiran 5 Juli 1969 ini, benar-benar merasakan apa yang dirasakan kedua orangtuanya ketika berkunjung ke pengungsian.

"Saya hanya tanya soal bagaimana hidup di sini (pengungsian). Nyaman atau tidak, dan semoga mereka tetap kuat serta semangat menghadapi cobaan ini," kata ayah bek kiri Bali United, Andhika Wijaya.

Pasek menyebut hanya bisa berdoa letusan Gunung Agung tidak sebesar seperti tahun 1963.

"Kita doakan bersama, agar tidak terjadi seperti tahun 1963. Semoga warga di sini (pengungsi) tetap mendapat perhatian semua pihak," katanya.             

Di lokasi pengungsian, Pasek Wijaya ikut langsung memberikan bantuan, seperti sembako dan keperluan lainnya. "Semoga bantuan manajemen Bali United bisa meringankan beban para pengungsi," katanya. (*)

Penulis: Marianus Seran
Editor: ady sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help